Selamat datang di website MTsN 3 Mataram, Madrasah Uswah (Unggul, Santun, ber-Wawasan, ber-Akhlak dan Handal)

Bagaimana Kalau Semua Orang Sama? Ceramah Duet Suzan & Intann saat Imtaq Jum’at

Setiap hari Jumat, suasana religius menyelimuti lingkungan MTsN 3 Mataram. Suara lantunan zikir, doa, dan Asmaul Husna terdengar merdu memenuhi lapangan madrasah.

Pada Jumat, 9 Mei 2025, kegiatan rutin Imtaq (Iman dan Taqwa) kembali digelar, menghadirkan suasana yang tak hanya menenangkan jiwa, tetapi juga menyentuh hati dan menggerakkan semangat para siswa.

Namun ada yang berbeda dari Imtaq kali ini. Bukan hanya karena kelas VIII-1 menjadi petugas kegiatan, tetapi juga karena hadirnya sebuah ceramah motivasi duet yang menggugah kesadaran, dibawakan oleh dua siswi penuh semangat: Suzan Aulia Oktavia dan Intan Syarifatul Aini.

Tema yang mereka bawakan pun tidak biasa: “Bagaimana Kalau Semua Orang Sama?” Sebuah pertanyaan sederhana yang ternyata menyimpan makna mendalam.

Kegiatan pagi itu dimulai seperti biasa dengan shalat Dhuha berjamaah, dilanjutkan dengan pembacaan doa shalat Dhuha, Surat Yasin, Asmaul Husna, zikir, dan doa bersama. Semua siswa tampak khusyuk, mengikuti setiap rangkaian dengan tertib dan penuh penghayatan.

Tiba pada sesi ceramah, seluruh mata tertuju ke depan panggung. Suzan dan Intan berdiri berdampingan, terlihat percaya diri namun tetap tenang. Mereka tak hanya tampil sebagai penyampai pesan, tetapi juga sebagai pengingat bagi semua yang hadir: bahwa perbedaan adalah kekuatan, bukan kelemahan.

Dengan gaya menyampaikan yang natural dan saling melengkapi, Suzan dan Intan bergantian menyampaikan pesan mereka. Berikut sebagian dari isi ceramah mereka yang berhasil memikat perhatian seluruh peserta:

Suzan membuka dengan lembut:
“Halo semuanya! Hari ini, aku dan Intan akan membawakan motivasi untuk kita semua dengan judul: ‘Bagaimana Kalau Semua Orang Sama?’”

Intan menyambung:
“Coba bayangkan… dunia ini semua orang punya wajah, gaya, dan cara berpikir yang sama. Apakah itu betul-betul indah?”

Mereka kemudian mengangkat kisah ilmuwan legendaris Galileo Galilei yang berani berpikir berbeda di zamannya.

Suzan berkata:
“Karena Galileo berani berpikir berbeda, kita tahu bahwa bumi mengelilingi matahari, bukan sebaliknya.”

Intan menegaskan:
“Kalau semua orang berpikir sama, tidak akan ada kemajuan. Dunia butuh orang-orang yang berpikir di luar kebiasaan.”

Keduanya mengajak para siswa untuk menghargai keunikan diri masing-masing.
“Kalau taman hanya punya satu jenis bunga, atau lagu hanya punya satu nada, tentu membosankan,” kata Suzan.

“Perbedaan adalah anugerah. Dunia ini indah karena keberagaman,” lanjut Intan.

Dan saat keduanya menyuarakan kalimat pamungkas bersama, suasana aula mendadak hening dan haru:

“Dunia tidak butuh banyak orang yang sama. Dunia butuh kamu—yang unik, yang berani, yang luar biasa.”
“Aku berdaya, dan itu luar biasa.”

Untuk diketahui kegiatan Imtaq di MTsN 3 Mataram bukan sekadar rutinitas keagamaan. Ia adalah bagian dari pembentukan karakter siswa yang religius, mandiri, dan berwawasan luas. Melalui pelibatan siswa dalam kepanitiaan, pembacaan doa, bahkan sampai ceramah, mereka dilatih untuk tampil, berpikir kritis, dan menyampaikan gagasan.

Ceramah duet Suzan dan Intan menjadi contoh nyata bagaimana kreativitas dan keberanian siswa bisa tumbuh melalui ruang-ruang pendidikan yang mendukung.

Mereka mengingatkan kita semua: bahwa dunia ini tidak butuh banyak salinan. Dunia butuh pribadi-pribadi unik yang berani menjadi diri sendiri.Dan kepada semua siswa di luar sana, ingatlah…
Berbedalah dengan bangga. Karena dunia butuh kamu, bukan salinan dari orang lain.

Redaksi: Ruslan Wahid, ST

0 Komentar