Tanggung Jawab dan Disiplin “Kisah Raja dan Senopati”, Amanat Bu Nurul yang Menyentuh
MATARAM – Upacara bendera hari Senin, 5 Mei 2025, di MTsN 3 Mataram berlangsung penuh makna dan refleksi mendalam tentang pentingnya pendidikan dan tanggung jawab. Bertempat di lapangan utama madrasah, kegiatan ini diikuti oleh seluruh guru, staf tata usaha, serta siswa-siswi dari berbagai tingkat kelas.
Petugas upacara berasal dari kelas VIII-4, sementara yang bertindak sebagai pembina upacara adalah Ibu Nurul Apriani, S.Pd., salah satu guru IPS yang dikenal penuh semangat dan inspiratif.
Acara dimulai tepat pukul 07.15 WITA, diawali dengan laporan pemimpin upacara, pengibaran bendera Merah Putih, menyanyikan lagu Indonesia Raya, serta pembacaan teks Pancasila, dan UUD 1945. Suasana berlangsung khidmat dan tertib.
Mengawali amanatnya, Ibu Nurul menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak, termasuk kepala madrasah, kepala tata usaha, para guru, serta staf dan siswa. Ia juga memberikan apresiasi kepada kelas VIII-4 yang telah menjadi petugas upacara, meskipun belum sempat menjalani latihan secara penuh.
“Terima kasih kepada kelas VIII-4 yang sudah berusaha menampilkan yang terbaik walaupun dengan persiapan yang minim. Ini bentuk keberanian dan tanggung jawab yang perlu kita hargai,” ucapnya.
Ibu Nurul melanjutkan amanatnya dengan mengulas kembali peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang telah dilaksanakan pada Jumat sebelumnya (2/5/2025). Ia mengingatkan bahwa pendidikan memiliki kekuatan besar untuk mengubah kehidupan seseorang.
“Menteri Pendidikan menyampaikan bahwa pendidikan adalah salah satu cara paling ampuh untuk memutus mata rantai kemiskinan. Ini bukan sekadar teori, tapi kenyataan,” tegasnya.
Melalui pernyataan tersebut, ia menekankan kepada siswa bahwa semangat belajar dan keinginan untuk terus berkembang harus ditanamkan sejak dini.
Untuk menyampaikan nilai-nilai moral dan tanggung jawab dengan cara yang lebih menyentuh, Ibu Nurul menceritakan sebuah kisah simbolis yang penuh hikmah, yakni tentang tiga orang senopati dan sang raja dari sebuah kerajaan fiktif bernama Antah Berantah.
Dalam kisah tersebut, sang raja yang dianggap sebagai wakil Tuhan di muka bumi ingin menguji kesetiaan dan tanggung jawab tiga senopatinya. Ia memerintahkan mereka pergi ke hutan dan mengumpulkan buah-buahan terbaik dalam waktu satu hari (24 jam), menggunakan karung yang telah disediakan.
Mereka tidak diberitahu bahwa hasil jerih payah itu nantinya akan menjadi bekal makanan satu-satunya selama satu bulan di penjara.
Senopati pertama menerima tugas dengan serius. Ia tidak mengeluh, dan menggunakan seluruh waktunya dengan efisien. Ia mengumpulkan buah-buahan matang terbaik, menatanya dengan rapi di dalam karung — buah yang matang sempurna di atas, buah mengkal di tengah, dan buah yang sangat matang di bawah. Ia bahkan berpikir strategis agar buah-buahan itu tetap layak dikonsumsi dalam waktu lama.
Senopati kedua bersikap setengah hati. Ia merasa tugas ini hanya untuk kepentingan raja. Ia mengumpulkan buah seadanya — sebagian busuk, sebagian mentah, bahkan ada yang bercampur daun dan ranting. Ia tidak peduli apa isi karungnya, asal terlihat penuh.
Senopati ketiga yang paling buruk. Ia menganggap tugas itu sia-sia dan hanya buang-buang waktu. Ia memasukkan buah busuk, dedaunan, dan sampah hutan ke dalam karung tanpa rasa tanggung jawab. Ia tidak berpikir panjang akan konsekuensi dari sikapnya.
Setelah waktu habis, ketiga senopati kembali ke istana. Tanpa banyak bicara, sang raja memenjarakan mereka selama satu bulan dan hanya boleh hidup dari isi karung yang telah mereka isi sendiri.
Senopati pertama bersyukur karena telah mengumpulkan buah yang baik. Selama satu bulan, ia bisa bertahan hidup. Bahkan buah yang mengkal di dalam karungnya menjadi matang setelah seminggu.
Senopati kedua menyesal. Ia merasa lapar dan kecewa karena banyak buah yang ia kumpulkan telah membusuk dan tidak layak makan. Tapi ia masih bisa bertahan meski dalam kondisi sulit.
Senopati ketiga mengalami penderitaan paling berat. Karena seluruh isi karungnya tidak bisa dimakan, ia mengalami kelaparan hebat. Ia hanya bisa menyesali keputusannya yang gegabah.
“Anak-anakku, dari kisah ini, kalian bisa ambil pelajaran. Ketika kalian mendapat tugas dari guru, kalian itu termasuk yang mana? Apakah seperti senopati pertama yang bersungguh-sungguh, yang kedua yang setengah hati, atau yang ketiga yang acuh tak acuh?” tanya Ibu Nurul kepada para siswa.
Ia menegaskan bahwa setiap tugas dari guru, sekecil apapun itu, adalah bekal masa depan yang akan kembali kepada diri siswa sendiri. Disiplin, tanggung jawab, dan niat yang baik akan menentukan hasil yang baik pula.
Memasuki akhir tahun ajaran, Ibu Nurul juga mengingatkan siswa untuk menyelesaikan seluruh tugas yang belum dikumpulkan kepada guru.
“Kalian tinggal punya waktu sekitar satu bulan. Silakan cari Bapak Ibu guru kalian. Tanyakan tugas apa yang belum selesai. Jangan tunggu diberitahu. Ini menentukan naik atau tidaknya kalian ke kelas berikutnya,” tegas beliau.
Ia menutup amanat dengan motivasi penting tentang masa depan:
“Ingat, masa depan bukan ditentukan guru, orang tua, atau teman kalian. Tapi ditentukan oleh kalian sendiri. Jadi bangkitkan semangat belajar, karena segala yang kalian lakukan, akan kembali kepada diri kalian sendiri.”
Amanat Ibu Nurul diakhiri dengan doa dan harapan agar seluruh siswa tetap semangat dan disiplin dalam menuntut ilmu. Upacara kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu wajib nasional dan ditutup dengan doa bersama.
Redaksi: Ruslan Wahid, ST

0 Komentar