Selamat datang di website MTsN 3 Mataram, Madrasah Uswah (Unggul, Santun, ber-Wawasan, ber-Akhlak dan Handal)

Upacara Senin MTsN 3 Mataram: Amanat Penuh Makna dari Ibu Dewi Asriati, S.Pd

MTsN 3 Mataram

Mataram —
Suasana pagi di MTs Negeri 3 Mataram pada Senin, 19 Mei 2025 terasa lebih semarak dari biasanya. Seperti tradisi mingguan yang terus dipertahankan, kegiatan upacara bendera kembali digelar di halaman utama madrasah.

Kegiatan ini bukan hanya sekadar rutinitas, melainkan bagian dari pembinaan karakter siswa secara berkelanjutan. Upacara berlangsung dengan khidmat, tertib, dan menjadi wadah penting untuk menyampaikan informasi sekaligus memperkuat nilai-nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Petugas upacara kali ini dipercayakan kepada siswa-siswi dari kelas VIII-5. Mereka bertugas mengatur seluruh rangkaian upacara mulai dari pemimpin upacara, pembawa acara, pengibar bendera, pembacaan UUD 1945, hingga paduan suara. Meski masih ada beberapa aspek teknis yang perlu ditingkatkan, secara umum mereka dinilai cukup solid dan menjalankan tugas dengan baik.

Pembina upacara, Ibu Dewi Asriati, S.Pd, yang merupakan guru Bimbingan dan Konseling di MTsN 3 Mataram, mengawali amanatnya dengan menyampaikan apresiasi terhadap petugas upacara.

"Terima kasih kepada petugas pagi hari ini yang sudah memberikan penampilan terbaik. Hanya saja perlu koreksi sedikit, terutama saat menyanyikan lagu kebangsaan, suaranya perlu lebih keluar agar lebih menghidupkan semangat," ujarnya ramah namun tegas.

Setelah menyampaikan salam kepada para guru, staf, dan seluruh siswa, Ibu Dewi langsung mengingatkan tentang agenda penting yang akan segera dihadapi siswa, yaitu Asesmen Semester Akhir Tahun (ASAT) yang dijadwalkan berlangsung dari 3 Juni hingga 13 Juni 2025.

“Tinggal 13 hari lagi kita akan menghadapi asesmen. Untuk itu, Bu Guru harapkan kalian mulai mempersiapkan diri. Belajar yang serius dan selesaikan semua tugas yang masih tertunda,” tegasnya di hadapan seluruh peserta upacara.

Beliau juga mengingatkan agar siswa tidak menyepelekan tugas-tugas yang diberikan oleh guru. Masih ditemukan banyak siswa yang belum menuntaskan tugas mata pelajaran tertentu, yang berdampak langsung pada nilai akhir.

“Jangan sampai nanti ketika asesmen berlangsung, kalian malah dipanggil guru atau wali kelas karena belum menyelesaikan tugas. Itu menunjukkan kalian belum bertanggung jawab sebagai seorang siswa,” lanjutnya.

Dalam amanatnya, Ibu Dewi memperkenalkan istilah baru kepada siswa: "Bullletter", yang dimaknainya sebagai seseorang yang mampu menetapkan target dan mencapainya. Ia mengajak siswa untuk menjadi bullletter, yakni pelajar yang menyelesaikan semua kewajiban akademik sebelum tenggat waktu.

“Targetkan dalam 13 hari ke depan, semua tugas selesai. Tanyakan kepada guru-guru kalian, mana nilai yang belum tuntas. Itu bentuk tanggung jawab kalian,” katanya memberi semangat.

Tak hanya fokus pada aspek akademik, Ibu Dewi juga menyampaikan pentingnya kekuatan spiritual dan restu dari orang tua. Ia menganjurkan siswa untuk selalu mendoakan orang tua mereka dan meminta doa agar setiap usaha belajar mendapat kemudahan dan keberkahan.

“Jangan lupa, sebelum belajar dan mengerjakan tugas, minta restu dari orang tua. Doa orang tua itu kunci sukses kalian,” tuturnya bijak.

Selain akademik, Ibu Dewi juga menaruh perhatian besar terhadap masalah kebersihan lingkungan madrasah, terutama kebersihan kelas. Menurut pengamatannya dan laporan dari guru lain, banyak kelas yang kembali kotor dan dipenuhi sampah terutama setelah waktu istirahat.

“Pagi hari kelas memang terlihat bersih. Tapi ketika istirahat selesai, kelas berubah jadi seperti tempat nongkrong. Sampah mie instan, minuman, dan plastik berserakan. Bahkan ada kelas yang lebih mirip kafe daripada ruang belajar,” ujarnya setengah bercanda, namun serius.

Beliau menyayangkan kurangnya kesadaran siswa untuk membuang sampah pada tempatnya, padahal tong sampah telah disediakan di banyak titik. Ia juga mengkritisi kebiasaan makan di dalam kelas yang berdampak langsung pada kebersihan dan kenyamanan belajar.

Untuk itu, Ibu Dewi mengusulkan agar aturan lama dihidupkan kembali, yaitu larangan makan dan minum di dalam kelas. Kegiatan makan akan dialihkan ke teras madrasah dan pelanggaran akan dikenakan sanksi berupa denda yang akan digunakan untuk keperluan kelas.

“Kenapa tidak kita kembali seperti dulu? Semua aktivitas makan dilakukan di luar kelas. Yang melanggar didenda, dan uangnya untuk kepentingan kelas. Supaya kalian lebih tertib,” ucapnya.

Ibu Dewi menutup amanatnya dengan ajakan kepada seluruh siswa dan guru untuk bersama-sama berproses menjadi lebih baik. Menurutnya, membentuk karakter siswa tidak cukup hanya dengan perintah, melainkan dengan keteladanan dan proses yang terus berulang.

“Bu Guru sendiri belajar dari kalian. Semua kita harus belajar. Tapi jangan hanya diingatkan terus menerus tanpa ada perubahan. Kita ini madrasah percontohan, maka tunjukkan bahwa kita memang layak menjadi contoh,” tegasnya.

Beliau mencontohkan bagaimana semangat kebersihan bisa muncul secara instan ketika ada tamu datang. Namun setelah itu, kondisi kembali seperti semula.

“Kalau ada tamu, dalam satu jam kelas langsung bersih, kinclong. Tapi seminggu kemudian kembali seperti pabrik. Ini harus kita ubah. Kesadaran itu harus tumbuh dari dalam diri,” pungkasnya.

Redaksi : Ruslan Wahid, ST

0 Komentar