Selamat datang di website MTsN 3 Mataram, Madrasah Uswah (Unggul, Santun, ber-Wawasan, ber-Akhlak dan Handal)

Mengulas Asal-usul Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW: Sejarah, Pandangan Ulama, dan Tradisi di Nusantara

Asal usul maulid Nabi SAW

Setiap tanggal 12 Rabiul Awal, umat Islam di berbagai penjuru dunia memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Di Indonesia, peringatan ini dikenal dengan sebutan Maulid Nabi dan sudah menjadi bagian penting dari kehidupan keagamaan sekaligus budaya masyarakat.

Namun, di balik kemeriahan dan kekhusyukan acara Maulid Nabi, muncul pertanyaan yang sering diajukan: Bagaimana asal-usul peringatan Maulid Nabi? Siapa yang pertama kali mengadakannya? Apa pandangan para ulama tentang tradisi ini?

Artikel ini akan mengulas secara lengkap tentang sejarah, pandangan ulama, literatur klasik, hingga tradisi budaya Maulid Nabi di Nusantara.

Pengertian Maulid Nabi

Secara etimologi, kata maulid (مولد) berasal dari bahasa Arab yang berarti kelahiran. Maka Maulid an-Nabi berarti hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Secara terminologi, Maulid Nabi adalah tradisi memperingati kelahiran Rasulullah SAW yang umumnya dilakukan dengan membaca shalawat, kisah sirah Nabi, pengajian, dzikir, hingga pembacaan kitab Maulid seperti Barzanji, Simthud Durar, atau Diba’i.

Imam Jalaluddin As-Suyuthi (w. 911 H) dalam kitabnya Husn al-Maqshid fi ‘Amal al-Maulid menulis:

“Menurutku, hukum peringatan Maulid Nabi yang dilakukan dengan membaca ayat Al-Qur’an, menyajikan makanan, dan mengingat kelahiran beliau adalah bid’ah hasanah (inovasi yang baik), karena di dalamnya terkandung pengagungan terhadap kedudukan Nabi Muhammad SAW.”

Asal-usul Peringatan Maulid Nabi dalam Sejarah

1. Belum Ada di Masa Rasulullah dan Sahabat

Pada masa Nabi Muhammad SAW dan para sahabat, tidak ada perayaan khusus Maulid. Umat saat itu lebih mengekspresikan kecintaan kepada Nabi melalui ketaatan, pengamalan sunnah, serta ibadah sehari-hari.

Namun, ada riwayat dalam hadis shahih yang menjadi landasan penting bagi sebagian ulama. Rasulullah SAW pernah ditanya tentang sebab beliau sering berpuasa di hari Senin, beliau menjawab:

“Hari itu adalah hari aku dilahirkan, dan hari aku diutus atau diturunkan wahyu kepadaku.”
(HR. Muslim, no. 1162)

Hadis ini dipahami ulama sebagai isyarat bahwa memperingati kelahiran Nabi dalam bentuk ibadah adalah sesuatu yang terpuji.

2. Maulid di Masa Dinasti Fathimiyah (Mesir, abad ke-10 M)

Sejarah mencatat, tradisi Maulid Nabi secara resmi mulai berkembang di era Dinasti Fathimiyah (Fatimiyun) di Mesir pada abad ke-10 Masehi. Dinasti ini dikenal sebagai penguasa Syiah Ismailiyah yang banyak mengadakan perayaan besar, termasuk Maulid Nabi, Maulid Fatimah, dan Maulid Ali bin Abi Thalib.

Namun, peringatan Maulid pada masa ini lebih bersifat politis dan seremonial, bukan ibadah massal seperti yang dikenal di kemudian hari.

3. Maulid Nabi di Masa Shalahuddin al-Ayyubi (Abad ke-12 M)

Peringatan Maulid Nabi dalam bentuk yang lebih religius dan populer mulai dipraktikkan pada masa Sultan Shalahuddin al-Ayyubi (1137–1193 M).

Shalahuddin yang terkenal sebagai pahlawan Perang Salib memanfaatkan momentum Maulid Nabi untuk:

  • Menyemangati pasukan muslim,

  • Menyatukan umat,

  • Menghidupkan kembali semangat cinta kepada Rasulullah.

Pada masa ini, Maulid Nabi diisi dengan pembacaan shalawat, kisah sirah Nabi, tausiyah, dan pembagian makanan. Sejak itu, peringatan Maulid menyebar ke berbagai belahan dunia Islam.

4. Penyebaran Maulid di Dunia Islam

Seiring berkembangnya Islam, perayaan Maulid Nabi menyebar ke berbagai negara Muslim dengan ragam tradisi:

  • Turki Utsmani: Perayaan Maulid dikenal dengan sebutan Mevlid Kandili.

  • Maroko: Digelar dengan zikir dan festival rakyat.

  • India & Pakistan: Disebut Eid Milad-un-Nabi, dirayakan dengan arak-arakan.

  • Indonesia: Dibawa oleh para wali dan ulama sejak abad ke-14–16, kemudian menjadi tradisi penting di Nusantara.

Pandangan Ulama tentang Maulid Nabi

Ulama yang Mendukung Maulid

  1. Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam Husn al-Maqshid:

    “Mengadakan Maulid dengan membaca ayat-ayat Al-Qur’an, memberi makan orang, dan membaca kisah kelahiran Nabi adalah amal kebaikan yang berpahala.”

  2. Imam Ibn Hajar al-Asqalani (w. 852 H) berkata:

    “Dasar amalan Maulid adalah bid’ah. Namun, ia termasuk bid’ah hasanah, karena di dalamnya terdapat nilai syukur kepada Allah atas lahirnya Nabi.” (Fath al-Bari).

  3. Imam Abu Shamah (guru Imam An-Nawawi) juga mendukung Maulid dengan alasan syiar Islam dan kecintaan pada Nabi.

Ulama yang Mengkritisi Maulid

Sebagian ulama seperti Ibnu Taimiyyah awalnya mengkritik Maulid karena dikhawatirkan mengandung hal-hal berlebihan. Namun, ia juga berkata:

“Mengadakan Maulid dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah dan menghormati Nabi adalah sesuatu yang berpahala besar.” (Iqtidha’ Shirath al-Mustaqim).

Ini menunjukkan bahwa perbedaan bukan pada substansi Maulid, tetapi pada cara pelaksanaannya.

Masuknya Tradisi Maulid ke Indonesia

Indonesia dikenal sebagai negara dengan tradisi Maulid yang sangat beragam. Para Wali Songo menggunakan Maulid sebagai media dakwah yang membumikan Islam ke dalam budaya lokal.

Beberapa tradisi Maulid terkenal di Indonesia:

  • Sekaten (Yogyakarta & Surakarta) – dakwah dengan gamelan, syiar, dan perebutan gunungan.

  • Khanduri Maulid (Aceh) – kenduri besar dengan kuah beulangong.

  • Panjang Mulud (Banten) – arak-arakan gunungan hasil bumi.

  • Molodhan (Madura) – shalawatan dengan musik saronen.

  • Maulid Adat (Lombok) – pembacaan barzanji dan pertunjukan peresean.

  • Baayun Maulid (Banjar, Kalsel) – tradisi mengayun anak sebagai doa keselamatan.

Fakta Budaya tentang Maulid Nabi di Nusantara

  1. Menguatkan gotong royong – masyarakat saling membantu dalam menyiapkan hidangan.

  2. Simbol akulturasi Islam dan budaya lokal – Maulid tidak menghapus budaya, tetapi mengislamisasinya.

  3. Menghidupkan literasi Islam – kitab-kitab Maulid seperti Barzanji dibacakan luas di Nusantara.

  4. Menjadi identitas kultural – di beberapa daerah, Maulid menjadi kalender adat yang wajib dirayakan setiap tahun.

Hikmah Peringatan Maulid Nabi

  1. Mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi seluruh alam.

  2. Menumbuhkan cinta dan rindu kepada Nabi dengan membaca sirah dan shalawat.

  3. Meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.

  4. Menguatkan ukhuwah umat Islam melalui kegiatan bersama di masjid dan kampung.

  5. Media dakwah kultural yang efektif menyampaikan Islam kepada masyarakat luas.

Kesimpulan

Asal-usul peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bermula dari tradisi umat Islam di Mesir pada masa Dinasti Fathimiyah, lalu dipopulerkan pada masa Shalahuddin al-Ayyubi, hingga akhirnya menyebar ke seluruh dunia Islam termasuk Indonesia.

Meski ada perbedaan pandangan ulama, mayoritas sepakat bahwa peringatan Maulid adalah tradisi positif selama diisi dengan hal-hal yang sesuai syariat.

Di Indonesia, Maulid Nabi bukan hanya ibadah, tetapi juga identitas budaya dan perekat sosial. Dari Aceh sampai Papua, setiap daerah punya cara unik memperingati hari lahir Rasulullah SAW, semuanya berakar pada cinta kepada beliau.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

“Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian hingga aku lebih ia cintai daripada dirinya, orang tuanya, dan seluruh manusia.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian, Maulid Nabi adalah momentum untuk meneguhkan kecintaan kepada Rasulullah, meneladani akhlak mulia beliau, serta menjadikan perayaan ini sebagai sarana memperkuat iman, persaudaraan, dan budaya Islam di Nusantara.


0 Komentar