Acara yang berlangsung sejak pagi 07.30 wita dipandu dengan
tertib oleh pembawa acara, Hj. Hadiani, S.Pd. Peringatan Maulid kali ini terasa
semakin istimewa karena pihak madrasah menghadirkan penceramah TGH. Syarif
Hidayatullah, S.Pd.T., MM.
Kegiatan dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang
dibacakan dengan penuh penghayatan oleh salah seorang siswa terbaik madrasah.
Lantunan tilawah tersebut menambah kesakralan suasana. Sebelum acara dimulai
dilantunkan juga gema shalawat oleh para guru dan siswa secara bersama-sama.
“Peringatan Maulid Nabi di madrasah ini bukan sekadar acara
seremonial. Ini adalah bagian dari pendidikan karakter yang kita tanamkan
kepada siswa. Semoga anak-anak mampu meneladani akhlak Rasulullah, baik di
madrasah, di rumah, maupun di lingkungan masyarakat,” ujarnya.
Ia juga berpesan kepada seluruh siswa agar mengikuti
tausiyah dengan seksama, serta menjadikan nilai-nilai yang disampaikan sebagai
bekal untuk menguatkan iman dan memperbaiki akhlak.
Acara berlanjut dengan tausiyah yang disampaikan oleh TGH.
Syarif Hidayatullah, S.Pd.T., MM. Beliau membuka ceramah dengan mengajak
seluruh hadirin memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.
Dalam ceramahnya, ia menceritakan berbagai peristiwa besar
yang mengiringi kelahiran Rasulullah, seperti gagalnya pasukan bergajah Abrahah
dalam menghancurkan Ka’bah, runtuhnya berhala-berhala di sekitar Mekah, serta
padamnya api abadi kaum Majusi di Persia. Semua itu, menurut beliau, adalah
tanda kebesaran Allah sekaligus pertanda lahirnya seorang nabi terakhir yang
membawa rahmat bagi semesta alam.
Lebih jauh, TGH. Syarif menekankan bahwa peringatan Maulid
Nabi adalah wujud cinta kepada Rasulullah. Ia menegaskan, siapa pun yang
membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW akan mendapatkan balasan shalawat
dari Allah sebanyak sepuluh kali lipat. Hal ini membuat jamaah semakin
bersemangat melantunkan shalawat di tengah-tengah ceramah.
Beliau juga menjelaskan lima misi kerasulan Nabi sebagaimana
tertuang dalam Al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat 45–46: Rasulullah sebagai saksi,
pembawa kabar gembira, pemberi peringatan, penyeru kepada Allah, dan cahaya
penerang bagi umat manusia.
“Kalau kita ingin hidup kita bercahaya, jangan jauh dari
Rasulullah. Ikutilah sunnahnya, bacalah shalawat, dan amalkan akhlak beliau
dalam kehidupan sehari-hari,” pesan beliau dengan penuh penekanan.
TGH. Syarif juga membawakan kisah-kisah akhlak mulia
Rasulullah, salah satunya tentang pengemis buta Yahudi di sudut Kota Madinah.
Meski pengemis itu selalu mencaci-maki Nabi, Rasulullah tetap datang setiap
hari untuk menyuapinya dengan lembut tanpa memperkenalkan diri. Kisah ini,
menurut beliau, menjadi bukti bahwa Islam tumbuh dan berkembang bukan karena
kekuatan pedang, melainkan karena kelembutan akhlak Nabi Muhammad SAW.
Beliau juga mengingatkan siswa-siswi MTsN 3 Mataram agar
menghindari perilaku negatif, seperti berkata kasar, tidak menghormati guru,
atau lalai dalam beribadah. Sebaliknya, ia mengajak untuk memperbanyak doa,
zikir, dan shalawat, serta memperkuat ukhuwah di antara sesama.
“Kalau anak-anak ingin sukses, jangan tinggalkan shalat,
jangan tinggalkan doa orang tua, dan jangan pernah berhenti bershalawat kepada
Rasulullah. Insya Allah hidup kalian akan diberkahi Allah SWT,” ujar beliau
yang langsung diamini oleh seluruh hadirin.
Menutup tausiyahnya ia membangkitkan semangat para siswa dengan mengajak untuk meneriakkan yel-yel madrsah yang menjadi kebanggaan: “Siapa kita..? MTs Negeri 3 Mataram, jaya! Allahu Akbar!” Suara lantang para siswa menggema di halaman madrasah.
Selanjutnya acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh penceramah oleh TGH. Syarif Hidayatullah, S.Pd.T., MM. Doa tersebut dipanjatkan untuk kebaikan seluruh warga madrasah, kelancaran proses belajar mengajar, serta kesehatan bagi siswa-siswi MTsN 3 Mataram, khususnya dua siswa yang sedang sakit.Redaksi : Ruslan Wahid, ST
0 Komentar