Mataram — Sejumlah ASN Kemenag Kota Mataram termasuk guru dan staf MTsN 3 Mataram turut mengikuti Peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW 27 Rajab 1448 Hijriah yang diselenggarakan di Masjid Islamic Center Hubbul Wathan, Nusa Tenggara Barat, pada Kamis malam, 15 Januari 2026. Kegiatan keagamaan yang berlangsung khidmat tersebut dihadiri ribuan jemaah dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari tokoh agama, aparatur sipil negara, pelajar, hingga pejabat pemerintahan.
Peringatan Isra Mikraj kali ini menjadi momentum penting untuk memperkuat nilai-nilai keimanan, ketakwaan, serta kepedulian sosial umat Islam. Selain sebagai peristiwa historis dalam perjalanan dakwah Rasulullah SAW, Isra Mikraj juga dipahami sebagai tonggak spiritual yang menegaskan pentingnya salat sebagai fondasi kehidupan seorang Muslim.
Acara tersebut menghadirkan TGH. Zafrul Fauzan Tabrani sebagai penceramah utama. Turut hadir Gubernur Nusa Tenggara Barat, Dr. Lalu Muhammad Iqbal, jajaran pejabat Pemerintah Provinsi NTB, unsur TNI dan Polri, para tuan guru, alim ulama, asatiz, pengurus takmir Masjid Hubbul Wathan, serta jemaah dari berbagai lapisan masyarakat.
Kehadiran para guru dan staf dalam peringatan Isra Mikraj ini menjadi cerminan komitmen insan pendidikan dalam menjaga keseimbangan antara tanggung jawab profesional dan penguatan spiritual. Selain menjalankan peran sebagai pendidik, guru juga dituntut menjadi teladan dalam hal akhlak, ibadah, dan kecintaan terhadap syiar Islam.
Para guru dan staf yang hadir mengikuti rangkaian acara dengan penuh kekhusyukan, mulai dari pembacaan ayat suci Al-Qur’an, tausiyah keagamaan, hingga salat Isya berjamaah. Suasana masjid tampak dipenuhi jemaah yang khidmat mendengarkan setiap pesan keislaman yang disampaikan.
Tausiyah TGH. Zafrul Fauzan Tabrani: Isra Mikraj sebagai Penguat Iman dan Jalan Kesuksesan
Dalam tausiyahnya, TGH. Zafrul Fauzan Tabrani mengawali ceramah dengan mengajak seluruh jemaah untuk senantiasa bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat iman, Islam, dan kesempatan untuk berkumpul dalam majelis yang penuh keberkahan. Ia menegaskan bahwa peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan sarana untuk mengambil ibrah dan hikmah yang mendalam.
Ia menjelaskan bahwa sejak dahulu para ulama telah sepakat tentang pentingnya memperingati peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah Islam, termasuk Isra Mikraj. Menurutnya, perdebatan mengenai boleh atau tidaknya memperingati Isra Mikraj sejatinya telah selesai sejak ratusan tahun lalu di kalangan para ulama.
“Allah Subhanahu wa Taala sendiri berfirman bahwa kisah para nabi diceritakan untuk menguatkan hati Rasulullah. Maka memperingati kisah agung Nabi Muhammad SAW tentu akan semakin menguatkan iman dan takwa kita,” ujarnya.
TGH. Zafrul Fauzan juga mengutip firman Allah SWT tentang pentingnya mengagungkan syiar-syiar agama. Ia menjelaskan bahwa syiar Islam mencakup simbol-simbol utama agama, seperti Nabi Muhammad SAW, Al-Qur’an, Baitullah, salat, dan Ramadan. Oleh karena itu, memuliakan Rasulullah SAW dan peristiwa Isra Mikraj merupakan bagian dari memuliakan agama Islam itu sendiri.
Isra Mikraj dan Pendidikan Kesadaran Spiritual
Lebih jauh, TGH. Zafrul Fauzan menekankan bahwa Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk memuliakan waktu dan peristiwa-peristiwa agung. Ia mencontohkan kemuliaan hari Jumat dan puasa hari Senin yang dilakukan Rasulullah sebagai bentuk penghormatan terhadap peristiwa kelahiran Nabi Adam dan kelahiran Rasulullah SAW.
“Kalau Rasulullah saja memuliakan hari dan peristiwa, lalu mengapa kita tidak memuliakan Isra Mikraj? Ini adalah peristiwa besar yang mengandung pelajaran luar biasa bagi kehidupan umat Islam,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa Isra Mikraj bukan hanya perjalanan fisik dan spiritual Nabi Muhammad SAW, tetapi juga gambaran perjalanan kesuksesan seorang hamba yang mencapai derajat tertinggi di sisi Allah SWT.
Salat sebagai Sistem Menuju Kesuksesan
Dalam bagian inti tausiyahnya, TGH. Zafrul Fauzan menguraikan konsep kesuksesan menurut Al-Qur’an dan Sunnah. Ia menjelaskan bahwa istilah sukses dalam Al-Qur’an menggunakan kata aflaha, yang bermakna keberuntungan dan keberhasilan sejati.
Menurutnya, Al-Qur’an menyebutkan beberapa kriteria orang yang sukses, di antaranya:
- Orang yang mampu mensucikan jiwa dan hatinya.
- Orang yang banyak berzikir dan mendirikan salat.
- Orang beriman yang khusyuk dalam salatnya.
- Orang yang mampu mengalahkan hawa nafsu dan keburukan dirinya.
Ia menegaskan bahwa seluruh kriteria tersebut bermuara pada satu ibadah uiitama, yaitu salat, yang diwajibkan secara langsung oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW dalam peristiwa Isra Mikraj.
“Salat bukan hanya kewajiban, tetapi sistem kehidupan. Jika salat kita baik, maka insyaallah kehidupan kita juga akan baik,” ungkapnya.
Sambutan Gubernur NTB: Isra Mikraj, Salat, dan Kepedulian Sosial
Sementara itu, Gubernur NTB Dr. Lalu Muhammad Iqbal dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya peringatan Isra Mikraj yang sarat dengan nilai reflektif dan edukatif. Ia mengapresiasi tausiyah yang disampaikan TGH. Zafrul Fauzan, yang menurutnya sangat relevan dengan kondisi umat Islam saat ini.
Gubernur menekankan bahwa peristiwa Isra Mikraj merupakan momentum turunnya perintah salat lima waktu, sekaligus bukti kedekatan Rasulullah SAW dengan Allah SWT. Ia juga menyinggung dua ayat terakhir Surah Al-Baqarah yang diterima Rasulullah secara langsung di Sidratul Muntaha.
Ia kemudian mengaitkan pesan Al-Qur’an tersebut dengan kondisi kebencanaan yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk di Nusa Tenggara Barat. Menurutnya, bencana merupakan ujian yang telah diperhitungkan oleh Allah SWT sesuai dengan kemampuan hamba-Nya.
“Allah tidak akan membebani hamba-Nya di luar batas kemampuannya. Namun ujian ini menuntut solidaritas, kepedulian, dan doa dari kita semua,” ujarnya.
Ajakan Menjaga Lingkungan dan Solidaritas Sosial
Dalam sambutannya, Gubernur NTB juga mengajak seluruh jemaah untuk meningkatkan solidaritas sosial dan kepedulian terhadap lingkungan. Ia menyoroti kerusakan lingkungan sebagai salah satu penyebab utama terjadinya bencana alam.
“Kita kehilangan kepedulian sosial dan semangat gotong royong. Ketika lingkungan rusak, dampaknya dirasakan oleh semua orang, termasuk mereka yang tidak bersalah,” tegasnya.
Ia berharap momentum Isra Mikraj ini dapat melahirkan kesadaran kolektif untuk menjaga alam, menghijaukan kembali hutan, dan memperbaiki hubungan sosial antarwarga.
Penutup dengan Salat Isya Berjamaah
Peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW di Masjid Islamic Center Hubbul Wathan NTB ditutup dengan salat Isya berjamaah, yang semakin menambah kekhidmatan suasana. Jemaah tampak larut dalam doa dan harapan agar peringatan ini membawa keberkahan bagi kehidupan pribadi, masyarakat, dan daerah Nusa Tenggara Barat secara keseluruhan.
Para guru dan staf yang hadir mengaku memperoleh banyak pelajaran berharga dari kegiatan tersebut, khususnya tentang pentingnya salat, kesucian jiwa, serta tanggung jawab sosial sebagai bagian dari iman.
Melalui peringatan Isra Mikraj ini, diharapkan seluruh umat Islam, khususnya para pendidik dan tenaga kependidikan, dapat terus meneladani akhlak Rasulullah SAW serta mengamalkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan pendidikan, keluarga, maupun masyarakat luas.



0 Komentar