Mataram – MTsN 3 Mataram kembali menunjukkan komitmennya dalam membentuk karakter religius bagi peserta didik melalui penyelenggaraan Ujian Sango Santri bagi seluruh siswa kelas IX. Kegiatan ini dilaksanakan sehari penuh pada Sabtu, 11 April 2026, mulai pukul 08.00 hingga 11.30 WITA, dan diikuti oleh sebanyak 197 siswa.
Ujian Sango Santri merupakan salah satu program unggulan
sekaligus ciri khas MTsN 3 Mataram yang bertujuan untuk mengukur sekaligus
memperkuat kemampuan keagamaan siswa sebelum mereka menyelesaikan pendidikan di
tingkat MTs. Demi kelancaran kegiatan, seluruh siswa kelas VII dan VIII
diliburkan sementara agar pelaksanaan ujian dapat berlangsung dengan fokus dan
maksimal.
Sejak pagi hari, suasana madrasah tampak berbeda dari
biasanya. Para siswa kelas IX hadir dengan penuh kesiapan, sementara seluruh
guru dan staf karyawan turut mengambil peran aktif dalam menyukseskan kegiatan
ini. Sebanyak 30 orang guru ditugaskan sebagai penguji, sementara 10 orang
lainnya berperan sebagai pendamping ujian di masing-masing ruangan.
Kepala MTsN 3 Mataram, H. Marzuki, turut meninjau langsung
pelaksanaan ujian di setiap ruangan. Dalam keterangannya, ia menegaskan bahwa
Ujian Sango Santri bukan sekadar evaluasi akademik biasa, melainkan bagian
penting dalam membekali siswa dengan nilai-nilai keislaman yang kuat.
“Ujian Sango Santri adalah salah satu ciri khas dan
identitas madrasah yang terus kita jaga dan lestarikan. Kata sango
berarti bekal, sedangkan santri berarti pembelajar agama. Jadi, kegiatan
ini bertujuan untuk memastikan setiap siswa memiliki bekal keagamaan yang kokoh
sebelum mereka melangkah ke jenjang berikutnya,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, 197 siswa dibagi ke dalam 5 (lima)
ruangan utama untuk mengikuti berbagai jenis ujian yang telah disiapkan oleh
panitia. Setiap ruangan difungsikan untuk menguji kompetensi tertentu, mulai
dari praktik ibadah sholat hingga penguasaan materi akidah seperti rukun iman
islam, nama-nama Nabi dan tes kemampuan numerasi dasar yakni perkalian 1-10.
Selain ujian di dalam kelas, terdapat pula sesi praktik
wudhu yang dilaksanakan di luar ruangan, tepatnya di tempat wudhu Musholla Ulil
Albab. Pada sesi ini, siswa secara langsung diminta untuk mempraktikkan tata
cara berwudhu sesuai dengan tuntunan fikih yang benar, di bawah pengawasan para
penguji.
Pendamping ujian memiliki peran penting dalam menjaga
kelancaran kegiatan. Mereka bertugas mengatur teknis pelaksanaan, termasuk
memanggil siswa secara bergantian, memastikan ketertiban, serta membantu
koordinasi antar ruang ujian.
Menariknya, penugasan penguji dalam kegiatan ini tidak
dilakukan secara acak. Panitia telah menyusun pembagian tugas secara matang
dengan mempertimbangkan latar belakang keilmuan dan pengalaman masing-masing
guru.
“Setiap penguji telah diberikan tugas berdasarkan kompetensi
dan bidang keilmuan yang mereka kuasai. Penugasan ini dilakukan secara matang
oleh panitia agar hasil evaluasi benar-benar objektif dan mendalam,” jelas H.
Marzuki.
Ia juga menambahkan bahwa pengaturan tersebut sangat penting
agar setiap aspek yang diuji dapat dinilai secara profesional.
“Penugasan penguji tidak dilakukan secara acak. Panitia
mengatur sedemikian rupa agar setiap guru dapat menguji pada bidang yang sesuai
dengan latar belakang mereka,” tambahnya.
Adapun materi penting dalam pelaksanaan Ujian Sango
Santri tahun ini dibagi ke dalam tiga bidang utama yang mencakup aspek akidah,
ibadah, dan numerasi.
Pertama Bidang Ujian A yakni Akidah dan Fikih Dasar. Pada
bidang ini, siswa diuji terkait pemahaman dasar keislaman, meliputi Rukun Iman,
Rukun Islam, serta Rukun Wudhu. Tidak hanya menjawab secara lisan, siswa juga
diwajibkan mempraktikkan tata cara berwudhu secara langsung.
Penguji menilai ketepatan urutan, kesesuaian gerakan, serta
pemahaman siswa terhadap makna dari setiap rukun yang dilakukan. Hal ini
bertujuan agar siswa tidak hanya hafal, tetapi juga memahami dan mampu
mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kedua Bidang Ujian B yaitu Praktik Ibadah Sholat. Bidang
kedua ini berfokus pada praktik ibadah sholat. Materi yang diujikan meliputi
rukun sholat, bacaan sholat, hingga praktik sholat secara lengkap.
Dalam sesi ini, siswa diminta melafalkan bacaan sholat
dengan benar serta memperagakan gerakan sholat secara tertib. Para penguji
memberikan penilaian berdasarkan ketepatan bacaan, kefasihan, serta kesesuaian
gerakan dengan tuntunan syariat.
Dan Ketiga Bidang Ujian C yaitu Akidah, Tarikh, dan
Numerasi. Pada bidang terakhir merupakan gabungan antara materi akidah,
sejarah Islam (tarikh), dan kemampuan numerasi dasar. Siswa diuji pada hafalan
dan pemahaman terhadap: Nama-nama 25 Nabi dan Rasul, Nama-nama 10 Malaikat
beserta tugasnya, 20 sifat wajib bagi Allah dan Hafalan perkalian 1–10.
Menurut H. Marzuki, bidang ini tidak hanya menguji kemampuan
hafalan, tetapi juga ketekunan dan pemahaman siswa.
“Bidang ini menguji aspek ketekunan dan keteladanan. Siswa
ditantang untuk menghafal, memahami, serta mampu menjelaskan dengan benar
setiap nama, tugas, maupun sifat yang ditanyakan. Termasuk pula uji hafalan
tabel perkalian sebagai bagian dari penguatan numerasi siswa,” ungkapnya.
Lebih jauh, Kepala Madrasah menegaskan bahwa Ujian Sango
Santri bukanlah ajang untuk menakut-nakuti siswa, melainkan sebagai sarana
pembinaan dan penguatan karakter.
“Kegiatan ini bukan untuk membuat siswa takut, tetapi untuk
membangun kepercayaan diri mereka. Kami ingin mereka siap menghadapi tantangan
zaman yang semakin kompleks, tidak hanya secara akademik tetapi juga secara
spiritual,” pungkasnya.
Ia berharap lulusan MTsN 3 Mataram memiliki keunggulan yang
berbeda dibandingkan dengan lulusan dari lembaga pendidikan lainnya.
“Kami berharap para siswa bukan hanya pandai dalam mata
pelajaran umum, tetapi juga kuat secara spiritual dan memiliki dasar agama yang
mumpuni. Itulah yang akan menjadi pembeda alumni madrasah,” tambahnya.
Dari pantauan bahwa pelaksanaan Ujian Sango Santri tahun ini
berlangsung dengan tertib dan lancar. Para siswa terlihat antusias mengikuti
setiap tahapan ujian, meskipun harus bergantian dan menunggu giliran untuk
diuji.
Di sisi lain, keterlibatan penuh seluruh guru dan staf
menjadi kunci utama keberhasilan kegiatan ini. Sinergi yang terjalin
menunjukkan komitmen bersama dalam membangun kualitas pendidikan yang tidak
hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga spiritual dan karakter.
Kegiatan ini juga menjadi refleksi bahwa pendidikan di
madrasah tidak hanya mengejar nilai akademik semata, tetapi juga membentuk
pribadi yang berakhlak mulia dan siap menghadapi kehidupan.
Sebagai program khas madrasah, Ujian Sango Santri terus
dipertahankan dan dikembangkan dari tahun ke tahun. Tradisi ini menjadi bukti
bahwa pendidikan berbasis nilai-nilai keislaman tetap relevan dan penting di
tengah perkembangan zaman.
Ujian Sango Santri bukan sekadar evaluasi, melainkan sebuah
proses pembekalan yang akan menjadi bekal hidup bagi para siswa. Bekal yang
diharapkan mampu membimbing mereka dalam menjalani kehidupan, baik sebagai
pelajar, anggota masyarakat, maupun sebagai generasi penerus bangsa yang
berakhlak dan berintegritas.
Redaksi oleh : Ruslan Wahid, ST

0 Komentar