Selamat datang di website MTsN 3 Mataram, Madrasah Uswah (Unggul, Santun, ber-Wawasan, ber-Akhlak dan Handal)

Abdul Hafidz Ajak Siswa MTsN 3 Mataram Memuliakan Guru dan Mencintai Ilmu

Abdul Hafidz

Mataram — MTsN 3 Mataram melaksanakan upacara bendera pada Senin, 27 Juli 2026, yang diikuti oleh seluruh warga madrasah. Kelas IX 1 mendapat kepercayaan sebagai petugas upacara, sementara Kepala Tata Usaha (KTU) MTsN 3 Mataram, Abdul Hafidz, bertindak sebagai pembina upacara. Melalui amanatnya, Abdul Hafidz menekankan pentingnya disiplin, adab kepada guru dan sesama, menjaga kesucian diri, mencintai lingkungan madrasah, serta membangun semangat untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari.

Upacara berlangsung dengan tertib dan penuh semangat. Para siswa mengikuti rangkaian kegiatan bersama kepala madrasah, wakil kepala madrasah, dewan guru, wali kelas, pembina, serta jajaran tata usaha MTsN 3 Mataram.

Dalam amanatnya, Abdul Hafidz terlebih dahulu mengajak seluruh peserta upacara untuk senantiasa bersyukur kepada Allah Swt. atas nikmat kesehatan dan kesempatan sehingga dapat kembali menjalankan aktivitas pendidikan di madrasah.

Menurutnya, kesehatan dan kesempatan merupakan nikmat yang perlu disyukuri dengan melaksanakan tugas dan tanggung jawab masing-masing secara sungguh-sungguh. Guru memiliki tanggung jawab mendidik dan membimbing, sedangkan siswa memiliki kewajiban belajar serta mengembangkan diri dengan sebaik-baiknya.

Ia juga mengajak seluruh warga madrasah untuk senantiasa meneladani Nabi Muhammad saw. dan menjadikan nilai-nilai keislaman sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Apresiasi Petugas Upacara Kelas IX 1

Pada kesempatan tersebut, Abdul Hafidz memberikan apresiasi kepada siswa kelas IX 1 yang telah menjalankan tugas sebagai petugas upacara dengan baik.

Menurutnya, menjadi petugas upacara tidak sekadar menjalankan rangkaian kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembelajaran karakter. Di dalamnya terdapat latihan kedisiplinan, kekompakan, tanggung jawab, keberanian, serta kepemimpinan.

Ia berharap pengalaman menjadi petugas upacara dapat tercermin dalam perilaku siswa sehari-hari, baik ketika mengikuti pembelajaran di kelas maupun saat berinteraksi dengan seluruh warga madrasah.

“Pengalaman ini menjadi pembelajaran sekaligus latihan kepemimpinan. Di dalamnya terkandung kedisiplinan dan kekompakan yang sangat bagus untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” pesannya.

Nilai tersebut dinilai penting karena pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik. Madrasah juga memiliki tanggung jawab membentuk siswa menjadi pribadi yang berkarakter, disiplin, bertanggung jawab, serta mampu bekerja sama.

Bangga Menjadi Siswa MTsN 3 Mataram

Abdul Hafidz selanjutnya mengajak seluruh siswa untuk memiliki rasa bangga dan bahagia karena mendapat kesempatan menimba ilmu di MTsN 3 Mataram.

Menurutnya, MTsN 3 Mataram memiliki berbagai aktivitas akademik dan keagamaan yang menjadi kekuatan dalam membentuk karakter peserta didik. Berbagai pembiasaan keagamaan yang dilaksanakan setiap hari menjadi modal penting untuk melahirkan lulusan yang tidak hanya memiliki pengetahuan umum, tetapi juga mempunyai dasar keagamaan dan karakter yang kuat.

Ia menilai budaya religius yang dikembangkan madrasah memiliki nilai strategis sebagaimana pembiasaan positif yang banyak ditemukan dalam lingkungan pendidikan pesantren.

“Anak-anakku sebagai siswa dan siswi MTs Negeri 3 Mataram patut berbangga dan berbahagia karena menimba ilmu di madrasah ini,” ungkapnya.

Rasa bangga tersebut, lanjutnya, harus dibuktikan melalui perilaku positif. Identitas sebagai siswa madrasah hendaknya terlihat dari cara berbicara, bersikap, belajar, menjaga kebersihan, menghormati guru, serta memperlakukan teman dengan baik.

Adab kepada Guru Menjadi Kunci Pendidikan

Salah satu pesan utama yang disampaikan Abdul Hafidz adalah pentingnya menjaga adab, terutama kepada orang tua dan guru.
Ia mengingatkan bahwa guru merupakan sosok yang harus dihormati dan dimuliakan karena memiliki peran besar dalam membimbing serta menyampaikan ilmu kepada peserta didik. Penghormatan tersebut dapat dimulai dari hal sederhana, termasuk cara menyapa dan memanggil guru.

“Setelah orang tua, kita harus memuliakan guru. Contoh paling sederhana adalah cara kita menegur dan menyapa Bapak dan Ibu guru. Itu bagian dari etika kita terhadap guru,” jelasnya.

Adab tersebut juga harus diterapkan dalam hubungan antarsiswa. Setiap siswa harus saling menghormati dan tidak melakukan tindakan yang dapat menyakiti, merendahkan, atau mengganggu temannya.

Dalam proses pendidikan, menurut Abdul Hafidz, guru, siswa, serta lingkungan merupakan unsur yang saling berkaitan. Karena itu, keberhasilan pembelajaran membutuhkan suasana yang aman, nyaman, tertib, bersih, dan dilandasi sikap saling menghargai.

Pesan tersebut sekaligus menegaskan bahwa pendidikan karakter tidak cukup hanya dipelajari melalui teori. Karakter harus hadir dalam tindakan nyata, mulai dari cara berbicara, menghormati orang lain, menjaga fasilitas, hingga kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Ajak Siswa Menjaga Wudu

Nuansa religius semakin kuat ketika Abdul Hafidz mengajak siswa untuk membiasakan diri menjaga wudu. Menurutnya, kebiasaan tersebut memiliki nilai spiritual sekaligus dapat menjadi sarana melatih siswa agar senantiasa menjaga diri dari perbuatan yang tidak baik.

Ia mengingatkan bahwa ilmu merupakan sesuatu yang mulia dan suci. Oleh sebab itu, seorang pelajar perlu mempersiapkan diri dengan hati, pikiran, dan perilaku yang baik ketika menuntut ilmu.

“Kalau sudah terbiasa berwudu, akan sangat bagus apabila wudunya dijaga sampai pulang. Ilmu itu adalah cahaya. Karena itu, kita berusaha menjaga kesucian diri agar lebih mudah menerima ilmu yang diberikan Bapak dan Ibu guru,” tuturnya.

Pesan menjaga wudu tersebut tidak hanya dimaknai secara ritual, tetapi juga sebagai latihan pengendalian diri. Ketika siswa terbiasa menjaga wudu, mereka diharapkan semakin berhati-hati dalam bertindak, berbicara, dan berinteraksi dengan orang lain.

Dengan demikian, proses mencari ilmu di madrasah tidak hanya melibatkan kemampuan intelektual, tetapi juga kesiapan spiritual dan pembentukan akhlak.

Pembiasaan Keagamaan Membawa Keberkahan

Abdul Hafidz juga mengingatkan siswa agar tidak menganggap berbagai kegiatan keagamaan di MTsN 3 Mataram sebagai rutinitas biasa.

Pembiasaan memulai aktivitas dengan salat, doa, dan bacaan-bacaan keagamaan merupakan bagian penting dalam membangun karakter religius warga madrasah. Jika dilaksanakan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, kegiatan tersebut diharapkan membawa keberkahan dalam proses pembelajaran.

“Setiap hari kita memulai aktivitas dengan salat dan bacaan-bacaan. Ini luar biasa kalau kita sadari. Mudah-mudahan menjadi sebab kegiatan berikutnya lebih berkah dan lebih bermakna,” katanya.

Ia berharap siswa mampu memahami makna di balik setiap pembiasaan yang diterapkan madrasah. Dengan pemahaman tersebut, siswa tidak sekadar melaksanakan kegiatan karena aturan, tetapi tumbuh kesadaran untuk menjadikannya sebagai kebutuhan dan kebiasaan positif.

Perbarui Niat untuk Menjadi Lebih Baik

Selain adab dan nilai religius, Abdul Hafidz memberikan motivasi agar seluruh siswa memiliki semangat memperbaiki diri setiap hari.

Menurutnya, semangat seseorang dapat berubah. Karena itu, dibutuhkan kesadaran dan niat yang terus diperbarui agar aktivitas belajar tidak mengalami kemunduran.

Sebelum berangkat menuju madrasah, siswa dianjurkan menanamkan tekad dalam diri bahwa hari yang akan dijalani harus lebih baik daripada hari sebelumnya.

“Ketika melangkahkan kaki dari rumah, harus ada niat bahwa hari ini lebih baik. Aktivitas belajar saya hari ini harus lebih baik dan nilai saya harus meningkat,” pesannya.

Niat sederhana tersebut dinilai dapat menjadi kekuatan untuk menumbuhkan motivasi dari dalam diri siswa. Ketika seorang siswa datang ke madrasah dengan tujuan yang jelas, ia akan lebih siap mengikuti pembelajaran, menghormati guru, menyelesaikan tugas, serta memanfaatkan waktu dengan baik.

Ia juga mendorong siswa membiasakan diri berpamitan dan bersalaman dengan orang tua sebelum berangkat ke madrasah sekaligus memohon doa agar proses belajar diberikan kemudahan dan keberkahan.

“Mohon doa kepada Bapak dan Ibu agar hari ini belajar lebih menyenangkan dan kita lebih semangat untuk belajar,” ujarnya.

Kebersihan Tanggung Jawab Bersama

Pesan lain yang mendapat perhatian dalam amanat pembina upacara adalah kepedulian terhadap kebersihan lingkungan.

Abdul Hafidz mengingatkan bahwa menjaga kebersihan MTsN 3 Mataram bukan hanya menjadi tugas petugas tertentu. Seluruh warga madrasah, termasuk siswa, guru, dan tenaga kependidikan, mempunyai tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan nyaman.

Ia meminta siswa tidak membiarkan sampah berserakan. Bahkan ketika melihat satu sampah di sekitar lingkungan madrasah, siswa diharapkan memiliki inisiatif untuk mengambil dan membuangnya ke tempat yang telah disediakan.

Kebiasaan sederhana tersebut menjadi bagian dari pendidikan karakter. Kepedulian terhadap lingkungan menunjukkan tumbuhnya rasa memiliki dan kecintaan terhadap madrasah.

Lingkungan yang bersih dan tertata juga akan mendukung berlangsungnya pembelajaran secara nyaman dan kondusif. Karena itu, budaya kebersihan harus dibangun melalui kerja sama seluruh warga madrasah.

Kerja Sama Menjadi Kekuatan Madrasah

Mengakhiri amanatnya, Abdul Hafidz menekankan pentingnya membangun kerja sama. Meskipun setiap unsur di MTsN 3 Mataram memiliki tugas dan tanggung jawab yang berbeda, semuanya memiliki tujuan yang sama, yakni menciptakan pendidikan yang berkualitas dan lingkungan madrasah yang baik.

Guru, tenaga kependidikan, siswa, petugas kebersihan, dan seluruh warga madrasah memiliki kontribusi masing-masing. Ketika setiap unsur menjalankan tugasnya sekaligus saling membantu, kegiatan pendidikan dapat berjalan lebih lancar.

Upacara Senin tersebut akhirnya tidak sekadar menjadi agenda rutin pengibaran Sang Merah Putih. Kegiatan itu menjadi ruang pendidikan karakter bagi siswa MTsN 3 Mataram untuk belajar disiplin, bertanggung jawab, menghargai guru dan teman, menjaga kebersihan, memperkuat nilai keagamaan, serta membangun semangat kebangsaan.

Melalui pesan yang disampaikan pembina upacara, seluruh siswa diharapkan mampu membawa nilai-nilai tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan baik yang dimulai dari lingkungan madrasah diharapkan tumbuh menjadi karakter yang melekat hingga mereka berada di tengah keluarga dan masyarakat.

Redaksi oleh Ruslan Wahid, ST.

0 Komentar