Mataram — MTsN 3 Mataram kembali melaksanakan kegiatan Iman dan Takwa (Imtaq) pada Jumat, 24 Juli 2026. Pada pelaksanaan Imtaq kali ini, kelas VIII 1 mendapat amanah sebagai petugas. Salah satu bagian yang menarik perhatian adalah pidato keagamaan yang disampaikan Zaneta, Ketua ORSIMA MTsN 3 Mataram, dengan mengangkat kisah penuh hikmah tentang tiga orang dari Bani Israil yang mendapat ujian sekaligus nikmat dari Allah Swt.
Kegiatan Imtaq Jumat menjadi salah satu sarana pembinaan keagamaan sekaligus penguatan karakter bagi siswa MTsN 3 Mataram. Melalui kegiatan tersebut, siswa tidak hanya dibiasakan mengikuti aktivitas keagamaan, tetapi juga diberikan ruang untuk belajar tampil di depan umum, menyampaikan pesan kebaikan, serta mengambil peran dalam kegiatan madrasah.
Pada Jumat kali ini, siswa kelas VIII 1 mendapat kesempatan menjadi petugas. Amanah tersebut menjadi pengalaman pembelajaran tersendiri karena siswa dituntut mempersiapkan diri, bekerja sama, serta melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab.
Salah satu siswa yang tampil adalah Zaneta. Selain merupakan siswa kelas VIII 1, Zaneta juga mengemban amanah sebagai Ketua ORSIMA MTsN 3 Mataram. Di hadapan peserta Imtaq, ia menyampaikan pidato keagamaan yang bersumber dari kisah hadis dalam Riyadhus Shalihin, karya Imam an-Nawawi.
Dalam pengantarnya, Zaneta menjelaskan bahwa Riyadhus Shalihin merupakan kitab yang memuat kumpulan hadis Rasulullah saw. Pada kesempatan tersebut, ia membawakan kisah tentang tiga orang dari kalangan Bani Israil yang diuji Allah Swt., yakni seorang yang menderita penyakit kulit, seorang yang tidak memiliki rambut atau botak, serta seorang yang mengalami kebutaan.
Kisah tersebut menggambarkan bagaimana Allah Swt. menguji manusia, bukan hanya melalui kesulitan, tetapi juga melalui nikmat dan kelapangan hidup. Ketiga orang tersebut pada awalnya hidup dalam kondisi yang serba terbatas.
Zaneta menceritakan bahwa Allah Swt. kemudian mengutus malaikat untuk mendatangi ketiganya. Malaikat terlebih dahulu menemui laki-laki yang mengalami penyakit kulit dan menanyakan sesuatu yang paling diinginkannya.
Laki-laki tersebut berharap mendapatkan kulit yang sehat sehingga kondisinya menjadi lebih baik dan ia tidak lagi dijauhi orang lain. Atas izin Allah Swt., malaikat mengusapnya dan penyakit yang selama ini dideritanya pun sembuh.
Malaikat kemudian menanyakan harta yang paling diinginkannya. Laki-laki itu memilih unta, lalu Allah memberinya nikmat berupa hewan tersebut.
Perjalanan malaikat berlanjut kepada laki-laki kedua yang mengalami kebotakan. Ketika ditanya mengenai keinginan terbesarnya, ia berharap memiliki rambut yang indah. Atas izin Allah Swt., malaikat mengusap kepalanya hingga rambutnya tumbuh kembali. Ketika ditanya tentang harta yang diinginkannya, laki-laki tersebut memilih sapi.
Selanjutnya, malaikat menemui laki-laki ketiga yang buta. Kepada malaikat, laki-laki tersebut menyampaikan harapannya agar Allah Swt. mengembalikan penglihatannya sehingga ia dapat kembali melihat.
Atas izin Allah, penglihatannya pun pulih. Ketika ditanya mengenai harta yang diinginkan, ia memilih kambing. Malaikat kemudian memberikan kambing kepadanya.
Seiring berjalannya waktu, hewan ternak yang diberikan kepada ketiga orang tersebut berkembang biak. Kehidupan mereka yang sebelumnya berada dalam keterbatasan berubah menjadi kehidupan yang dipenuhi kelapangan dan harta.
Namun, kisah tersebut tidak berhenti pada pemberian nikmat.
Menurut Zaneta, justru pada saat memperoleh kelapangan itulah ujian berikutnya datang. Allah Swt. kembali mengutus malaikat untuk mengetahui bagaimana sikap ketiga orang tersebut setelah kehidupan mereka berubah.
Kali ini, malaikat datang dalam keadaan yang berbeda. Ia tampil sebagai orang yang sedang mengalami kesusahan dan membutuhkan pertolongan. Malaikat kemudian mendatangi satu per satu ketiga orang yang sebelumnya telah memperoleh pertolongan dan nikmat dari Allah.
Ketika mendatangi orang pertama dan meminta bantuan, permintaan tersebut ditolak. Padahal, orang itu sebelumnya pernah berada dalam keadaan sulit sebelum Allah memberikan kesembuhan dan kelapangan rezeki kepadanya.
Hal serupa terjadi ketika malaikat mendatangi orang kedua. Setelah mendapatkan kesehatan dan kekayaan, ia juga tidak menunjukkan rasa syukur melalui kepedulian kepada orang yang membutuhkan pertolongan.
Berbeda dengan keduanya, laki-laki ketiga yang sebelumnya mengalami kebutaan menunjukkan sikap yang mulia. Ia mengingat nikmat yang telah diberikan Allah kepadanya dan bersedia memberikan sebagian hartanya kepada orang yang dianggap membutuhkan pertolongan.
Sikap itulah yang kemudian menjadi inti pesan pidato Zaneta.
Melalui kisah tersebut, ia mengajak seluruh siswa MTsN 3 Mataram untuk tidak melupakan asal-usul nikmat yang dimiliki. Kesehatan, kemampuan belajar, keluarga, teman, kesempatan mendapatkan pendidikan, hingga berbagai kemudahan dalam kehidupan merupakan nikmat yang patut disyukuri.
“Hikmah yang bisa kita ambil dari kisah ini adalah selalu bersyukur dan jangan menganggap diri kita paling tinggi,” pesan Zaneta.
Pesan tersebut mengingatkan siswa bahwa rasa syukur tidak cukup hanya disampaikan melalui ucapan. Syukur juga perlu diwujudkan dalam perilaku sehari-hari, termasuk membantu sesama, tidak sombong, menghargai orang lain, serta memanfaatkan nikmat yang diberikan Allah untuk melakukan kebaikan.
Pidato tersebut semakin menarik ketika Zaneta tidak hanya menyampaikan materi secara satu arah. Sebagai penutup, Ketua ORSIMA itu mengajak para siswa berinteraksi melalui sesi tanya jawab.
Sejumlah pertanyaan disampaikan berkaitan dengan materi yang baru saja dibawakan. Salah satunya mengenai sumber kisah yang diceritakan. Para siswa diminta menyebutkan kitab yang menjadi rujukan serta penjelasan singkat mengenai kitab tersebut.
Pertanyaan berikutnya mengajak peserta menyampaikan hikmah yang dapat dipetik dari kisah tiga orang tersebut. Salah seorang siswa kemudian maju dan menjawab bahwa pelajaran utama dari kisah itu adalah pentingnya selalu bersyukur atas segala sesuatu yang telah dimiliki.
Interaksi tersebut membuat kegiatan Imtaq tidak hanya menjadi ruang untuk mendengarkan ceramah, tetapi juga menjadi proses pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif. Peserta diajak menyimak, mengingat kembali isi materi, kemudian mengungkapkan pemahamannya.
Pertanyaan terakhir berkaitan dengan tiga tokoh dalam kisah beserta kondisi yang mereka alami. Siswa pun berusaha menjawab berdasarkan materi yang telah didengarkan.
Cara penyampaian seperti ini memberikan warna tersendiri pada kegiatan Imtaq. Adanya sesi tanya jawab dapat mendorong siswa untuk lebih berkonsentrasi ketika mendengarkan materi sekaligus melatih keberanian mereka menjawab pertanyaan di hadapan teman-temannya.
Penampilan Zaneta juga menjadi bagian dari proses pengembangan kemampuan kepemimpinan siswa. Sebagai Ketua ORSIMA, kesempatan berbicara di hadapan warga madrasah dapat menjadi sarana untuk melatih komunikasi publik, kepercayaan diri, tanggung jawab, dan kemampuan menyampaikan pesan positif kepada teman sebaya.
Di sisi lain, keterlibatan kelas VIII 1 sebagai petugas menunjukkan bahwa kegiatan Imtaq merupakan media pembelajaran yang tidak terbatas pada aspek keagamaan. Para siswa juga belajar mengenai kerja sama, kedisiplinan, kesiapan menjalankan tugas, dan tanggung jawab.
Kegiatan Imtaq Jumat di MTsN 3 Mataram diharapkan terus menjadi ruang pembentukan generasi madrasah yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dan akhlak mulia.
Kisah yang disampaikan Zaneta memberikan pelajaran bahwa ujian kehidupan dapat hadir dalam berbagai bentuk. Kesulitan merupakan ujian, tetapi kesehatan, kekayaan, kemampuan, dan berbagai kemudahan yang dimiliki manusia juga dapat menjadi ujian mengenai sejauh mana seseorang mampu bersyukur.
Rasa syukur tersebut dapat diwujudkan dengan menjaga nikmat, menggunakannya untuk kebaikan, berbagi kepada orang lain, dan tidak merendahkan mereka yang sedang berada dalam kondisi kurang beruntung.
Bagi siswa, nilai tersebut relevan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di madrasah. Siswa dapat menunjukkan rasa syukur dengan rajin belajar, menghormati guru dan orang tua, menjaga persahabatan, membantu teman yang mengalami kesulitan, serta tidak menyombongkan kemampuan maupun prestasi.
Melalui kegiatan Imtaq Jumat, MTsN 3 Mataram terus berupaya menghadirkan pendidikan yang menyentuh aspek pengetahuan sekaligus karakter dan spiritualitas siswa. Kegiatan keagamaan menjadi bagian penting dalam menumbuhkan kebiasaan positif dan membangun kesadaran bahwa ilmu pengetahuan harus berjalan beriringan dengan iman, takwa, dan akhlak.
Pelaksanaan Imtaq Jumat, 24 Juli 2026, yang dipercayakan kepada kelas VIII 1 tersebut akhirnya bukan sekadar kegiatan rutin. Di dalamnya terdapat proses belajar tentang keberanian, kepemimpinan, kerja sama, rasa syukur, kepedulian, dan kerendahan hati.
Pesan sederhana dari kisah tiga orang Bani Israil yang dibawakan Zaneta pun menjadi pengingat bagi seluruh peserta: setiap nikmat patut disyukuri, dan salah satu bentuk terbaik dari rasa syukur adalah menggunakan nikmat tersebut untuk menebarkan kebaikan kepada sesama.
Redaksi oleh Ruslan Wahid, ST

0 Komentar