MTsN3Mataram_ Kegiatan Iman dan Takwa (Imtaq) Jumat yang dilaksanakan pada Jumat, 31 Juli 2026, berlangsung dengan khidmat dan penuh antusias. Pada kesempatan tersebut, kelas IX.2 mendapat amanah sebagai petugas pelaksana kegiatan. Salah satu agenda utama adalah penyampaian tausiah yang dibawakan oleh Dea dan Rania, perwakilan kelas IX.2, dengan mengangkat tema "Menjaga Diri dari Perilaku Buruk di Era Modern."
Dalam tausiahnya, kedua pemateri mengajak seluruh peserta didik untuk merenungkan bagaimana teknologi, khususnya telepon genggam dan media sosial, telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Mereka mengingatkan bahwa kemajuan teknologi merupakan nikmat dari Allah Swt. yang harus dimanfaatkan secara bijaksana agar memberikan manfaat bagi kehidupan dunia maupun akhirat.
Mengawali ceramah, Dea dan Rania mengajak seluruh peserta untuk bersyukur atas nikmat iman, Islam, dan kesehatan sehingga dapat mengikuti kegiatan Imtaq dalam suasana yang penuh keberkahan. Selanjutnya, mereka mengajak para siswa melakukan refleksi sederhana mengenai kebiasaan menggunakan telepon genggam setiap hari.
"Kita membuka handphone berkali-kali setiap hari. Pertanyaannya, apakah handphone yang kita gunakan semakin mendekatkan kita kepada Allah atau justru semakin menjauhkan kita dari-Nya?" ungkap mereka.
Menurut Dea dan Rania, perkembangan teknologi telah membawa banyak kemudahan. Melalui teknologi, siswa dapat belajar, mencari informasi, berkomunikasi, bahkan menyebarkan dakwah dan berbagai informasi yang bermanfaat. Namun di sisi lain, apabila tidak digunakan dengan bijaksana, teknologi dapat menjadi pintu masuk berbagai perilaku negatif.
Beberapa contoh perilaku yang disoroti antara lain kebiasaan menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya, memberikan komentar yang dapat menyakiti orang lain, menghabiskan waktu berlebihan di media sosial hingga melalaikan kewajiban belajar dan beribadah, serta mengikuti tren yang bertentangan dengan ajaran Islam hanya demi mendapatkan pengakuan dari lingkungan pergaulan.
Untuk memperkuat pesan tersebut, mereka mengutip firman Allah Swt. dalam Surah Al-Isra ayat 36, yang mengingatkan agar manusia tidak mengikuti sesuatu tanpa ilmu dan pengetahuan. Ayat tersebut juga menegaskan bahwa pendengaran, penglihatan, dan hati akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt.
Selain itu, mereka juga menyampaikan hadis Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam." Hadis tersebut menjadi pengingat bahwa setiap ucapan maupun tulisan, termasuk yang disampaikan melalui media sosial, memiliki konsekuensi dan harus dipertanggungjawabkan.
Melalui tausiah tersebut, Dea dan Rania mengajak seluruh siswa untuk mulai menjaga diri dari hal-hal yang tampak sederhana, seperti menggunakan media sosial untuk menyebarkan pesan-pesan positif, memilih teman yang membawa pengaruh baik, mengisi waktu dengan belajar dan beribadah, serta membiasakan berpikir sebelum berbicara maupun menulis sesuatu di dunia digital.
Mereka juga menegaskan bahwa teknologi bukanlah musuh manusia. Justru, manusialah yang menentukan apakah teknologi menjadi sarana memperoleh pahala atau sebaliknya menjadi penyebab datangnya dosa.
"Jangan sampai kita menjadi orang yang canggih dalam menggunakan teknologi, tetapi lemah dalam menjaga akhlak. Jadikan media sosial sebagai ladang pahala, bukan ladang dosa," pesan mereka di hadapan seluruh peserta Imtaq.
Suasana semakin hidup ketika tausiah ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif. Dea dan Maria memberikan beberapa pertanyaan kepada para siswa mengenai materi yang telah disampaikan. Peserta yang mampu menjawab diberikan kesempatan maju ke depan sebagai bentuk apresiasi sekaligus untuk meningkatkan semangat mengikuti kegiatan.
Pertanyaan pertama mengajak siswa mengingat kembali inti materi bahwa baik atau buruknya teknologi bergantung pada cara manusia menggunakannya. Pertanyaan berikutnya berkaitan dengan kandungan Surah Al-Isra ayat 36, yang dijawab dengan baik oleh salah seorang peserta. Pada pertanyaan terakhir, siswa diminta menyebutkan contoh perilaku buruk di era modern. Beberapa jawaban yang muncul antara lain terlalu lama bermain telepon genggam hingga lupa waktu, mudah mempercayai gosip yang belum tentu benar, serta menjadi malas karena terlalu bergantung pada teknologi.
Interaksi tersebut disambut antusias oleh seluruh peserta. Suasana menjadi lebih komunikatif sehingga materi yang disampaikan tidak hanya didengar, tetapi juga dipahami melalui keterlibatan langsung para siswa.
Melalui kegiatan Imtaq Jumat ini, sekolah terus berupaya menanamkan nilai-nilai keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia kepada seluruh peserta didik. Tema yang diangkat sangat relevan dengan tantangan kehidupan di era digital, ketika teknologi berkembang begitu pesat dan menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.
Diharapkan, seluruh siswa mampu memanfaatkan perkembangan teknologi secara positif, menjadikan media sosial sebagai sarana belajar, berbagi ilmu, dan menyebarkan kebaikan, serta tetap menjaga akhlak dalam setiap aktivitas, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.
Kegiatan Imtaq Jumat yang dilaksanakan secara rutin ini menjadi salah satu media pembinaan karakter yang efektif. Selain meningkatkan keimanan dan ketakwaan, kegiatan ini juga melatih keberanian siswa tampil di depan umum, mengasah kemampuan berbicara, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam menjalankan amanah sebagai petugas kegiatan keagamaan di sekolah.
Dengan demikian, diharapkan lahir generasi yang tidak hanya cerdas dalam memanfaatkan teknologi, tetapi juga memiliki akhlak mulia, berkarakter, dan mampu menjadi teladan di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Redaksi oleh Ruslan Wahid, ST

0 Komentar