Selamat datang di website MTsN 3 Mataram, Madrasah Uswah (Unggul, Santun, ber-Wawasan, ber-Akhlak dan Handal)

MTsN 3 Mataram Launching BEGIBUNG, Wadah Kolaborasi dan Evaluasi untuk Madrasah Maju

BEGIBUNG

Mataram — MTsN 3 Mataram resmi meluncurkan program BEGIBUNG, sebuah wadah bincang bersama yang dihajatkan untuk merencanakan, mengevaluasi, sekaligus melahirkan gagasan dan inovasi bagi kemajuan madrasah. Program tersebut diluncurkan pada Sabtu, 25 Juli 2026, di ruang laboratorium MTsN 3 Mataram dan diikuti seluruh guru serta staf tenaga kependidikan.

BEGIBUNG dirancang sebagai agenda yang dilaksanakan setiap Sabtu setelah kegiatan pembelajaran berakhir sembari menunggu jam pulang kerja. Pertemuan tidak dikemas layaknya rapat formal yang kaku, melainkan menjadi ruang komunikasi yang santai, terbuka, produktif, dan berorientasi pada pemecahan masalah.

Menariknya, nama BEGIBUNG tidak lahir begitu saja. Nama tersebut merupakan hasil sayembara internal yang digelar selama sepekan, 18–24 Juli 2026. Guru dan tenaga kependidikan diberi ruang untuk mengusulkan nama terbaik bagi forum Sabtu tersebut.

Sejumlah nama kreatif pun bermunculan. Zulkarnaen Iskandar mengusulkan WARKOPI, kependekan dari Wadah Ruang Komunikasi Evaluasi. L. Saifullah menawarkan SANGKEP, yakni Satu Niat Guru, Kurikulum, Evaluasi dan Pengembangan, serta REBA' JANGKEH, yang dimaknai Rembug Bareng sebagai Ajang Komunikasi dan Evaluasi Menuju Handal.

Hj. Hadiani mengusulkan BINA RAGA, Bincang Bermakna Warga MTs Tiga, serta DULANG PERAK, Duduk Nunggu Pulang Pecahkan Ragam Kendala. Iskandar menawarkan TEMU RASA, sebagai ruang berkumpul dan berdiskusi mengenai berbagai persoalan pembelajaran.

Kreativitas juga muncul melalui usulan SHOPEE, Sharing Opinion to Produce Excellent Result, dari Hurun In. Ruslan Wahid menawarkan dua nama, yaitu ASIK, Aksi, Solusi, Inspirasi, dan Kolaborasi, serta REMBUK, Rencana, Evaluasi, Musyawarah Bersama untuk Kemajuan.

Sihabudin mengusulkan SABTU MANCIING, Saling Bantu Merancang Ide Inovasi Guru. Sementara itu, H. Munajah mengusulkan istilah TEDUN, Tempat Duduk Ngopi/Gerumpi. Di antara berbagai nama tersebut, usulan BEGIBUNG dari H. Ahmad Muzayyin akhirnya ditetapkan sebagai nama resmi program.

Pemilihan nama tersebut memiliki alasan yang kuat. BEGIBUNG merupakan istilah yang lekat dengan kearifan lokal masyarakat Sasak di Lombok. Secara filosofis, begibung menggambarkan semangat duduk bersama, kebersamaan, kesetaraan, dan berbagi. Nilai itulah yang kemudian diadaptasi MTsN 3 Mataram menjadi semangat berbagi ilmu, pengalaman, gagasan, hingga solusi terhadap berbagai persoalan madrasah.

Nama tersebut kemudian mendapatkan pemaknaan kreatif dari para guru. L. Saifullah memaknai BEGIBUNG sebagai “Berbagi Ilmu, Berinovasi, Unggul”, sedangkan Hj. Hadiani memberikan makna “Bersama Eksplorasi Gagasan dan Ide untuk MTs 3 Melambung.”

Dua pemaknaan itu memperkuat filosofi BEGIBUNG sebagai forum yang tidak hanya mempertahankan nilai kearifan lokal, tetapi juga diarahkan menjadi motor penggerak budaya inovasi di MTsN 3 Mataram.

Dari Kearifan Lokal Menuju Budaya Kolaborasi

Kepala MTsN 3 Mataram, H. Marzuki, S.Pd., dalam arahannya menyampaikan bahwa pertemuan setiap Sabtu diharapkan menjadi kebiasaan positif bagi seluruh warga madrasah. Forum tersebut sengaja tidak dibangun dalam suasana rapat formal yang menegangkan, tetapi sebagai ruang kebersamaan yang tetap menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

Menurutnya, waktu setelah siswa menyelesaikan pembelajaran pada Sabtu dapat dimanfaatkan secara produktif untuk berdiskusi, melakukan evaluasi, menyusun rencana, serta mencari jalan keluar atas berbagai persoalan yang ditemukan selama proses pendidikan berlangsung.

“Pertemuan ini kita arahkan agar bagaimana kita bergerak bersama dan berpacu menjadi lebih baik. Niat bersama ini harus terus kita hidupkan dan jalankan,” ungkap H. Marzuki.

Ia berharap setiap pertemuan BEGIBUNG melahirkan gagasan konkret. Dengan demikian, Sabtu bukan sekadar menjadi waktu berkumpul, tetapi menjadi momentum menumbuhkan rasa rindu untuk bertemu, berdiskusi, dan menghasilkan sesuatu yang positif bagi madrasah.

“Ada rasa rindu untuk berkumpul, tetapi berkumpulnya itu harus menelurkan sesuatu yang lebih positif,” ujarnya.

Optimistis MTsN 3 Mataram Mampu Menjadi yang Terdepan

Dalam arahannya, H. Marzuki juga mengajak seluruh guru dan tenaga kependidikan membangun optimisme bahwa MTsN 3 Mataram memiliki modal besar untuk terus berkembang dan menjadi salah satu madrasah terdepan.

Menurutnya, potensi tersebut dapat dilihat dari berbagai sisi, mulai dari kualitas sumber daya manusia, posisi geografis yang strategis, akses transportasi, lingkungan sekitar madrasah, hingga perkembangan digitalisasi layanan pendidikan.

MTsN 3 Mataram berada di kawasan strategis yang dikelilingi permukiman, perkantoran, lembaga pemerintahan, perusahaan, dan berbagai fasilitas publik. Akses jalan menuju madrasah juga dinilai memberikan keuntungan karena memudahkan mobilitas siswa dan orang tua.

Di sisi sumber daya manusia, madrasah memiliki guru-guru yang kompeten dan telah tersertifikasi. Modal tersebut, menurut kepala madrasah, harus diiringi semangat untuk terus meningkatkan kedisiplinan, pelayanan, kekeluargaan, kebersihan, dan mutu pembelajaran.

“Walaupun secara nama kita nomor tiga, bukan tidak mungkin MTsN 3 Mataram justru menjadi yang terdepan. Kebanggaan terhadap madrasah harus kita iringi dengan perjuangan bersama,” tegasnya.

Optimisme tersebut juga didukung tingginya kepercayaan masyarakat. Menurut H. Marzuki, minat masyarakat untuk menyekolahkan putra-putrinya di MTsN 3 Mataram terus menunjukkan perkembangan positif. Kepercayaan itu harus dijawab melalui peningkatan mutu pelayanan dan pendidikan.

“Karena kita semakin diminati, mari kita jawab kepercayaan itu dengan mempersiapkan seluruh unsur di dalam madrasah, meningkatkan disiplin, keramahan, pelayanan, dan kualitas kita,” pesannya.

Digitalisasi Jadi Bagian Transformasi Madrasah

Semangat kemajuan yang hendak diperkuat melalui BEGIBUNG berjalan seiring dengan berbagai inovasi yang mulai dikembangkan MTsN 3 Mataram. Salah satunya adalah penguatan layanan berbasis digital.

Pada Tahun Pelajaran 2026/2027, madrasah mulai mengembangkan sistem presensi siswa secara digital. Sistem tersebut diharapkan tidak hanya mempermudah administrasi kehadiran, tetapi juga memperkuat kedisiplinan dan komunikasi informasi kepada orang tua.

Berbagai inovasi tersebut menjadi bukti bahwa transformasi madrasah tidak hanya menyentuh aspek pembelajaran, tetapi juga tata kelola dan layanan pendidikan.

Karena itu, BEGIBUNG diharapkan menjadi “dapur gagasan” tempat inovasi-inovasi baru dibicarakan sebelum diterapkan secara lebih luas.

Seluruh Stakeholder Diajak Mengikuti Ritme Kemajuan

Kepala Tata Usaha MTsN 3 Mataram, Abdul Hafidz, turut memberikan penguatan sebelum membacakan Surat Keputusan penetapan pemenang sayembara. Ia mengajak seluruh warga madrasah menyadari bahwa MTsN 3 Mataram sedang bergerak menuju peningkatan mutu yang lebih tinggi.

Menurutnya, berbagai inovasi dan terobosan yang dilakukan pimpinan perlu mendapatkan dukungan kolektif seluruh stakeholder.

“Kita harus menyadari bahwa sekarang sedang diajak berlari ke arah peningkatan-peningkatan, bahkan menuju madrasah maju. Karena itu, semangat kita harus sama agar cita-cita tersebut dapat kita raih,” ungkapnya.

Ia menekankan bahwa kemajuan lembaga tidak mungkin hanya bertumpu pada satu orang. Guru, tenaga kependidikan, unsur pimpinan, serta seluruh stakeholder harus memberikan daya dukung yang sama.

Kedisiplinan menjadi salah satu aspek yang secara khusus ditekankan. Menurut Abdul Hafidz, keinginan menjadi madrasah unggul harus dimulai dari budaya kerja yang kuat, disiplin, loyalitas, serta kesiapan mengikuti perubahan.

Ia juga melihat MTsN 3 Mataram memiliki peluang untuk mengembangkan keunggulan akademik, kepemimpinan, inovasi, serta program-program pendidikan yang pada waktunya dapat membawa madrasah bersaing tidak hanya di tingkat daerah, tetapi juga pada level yang lebih luas.

Pemenang Sayembara Nama Program

Momentum yang ditunggu dalam kegiatan tersebut adalah pembacaan keputusan pemenang sayembara nama program Sabtu.

Abdul Hafidz kemudian mengumumkan bahwa nama BEGIBUNG, yang diusulkan H. Ahmad Muzayyin, terpilih dan ditetapkan sebagai nama resmi kegiatan evaluasi Sabtu MTsN 3 Mataram.

Pemilihan BEGIBUNG mendapatkan apresiasi karena dinilai sederhana, mudah diingat, memiliki kedekatan dengan budaya masyarakat Lombok, sekaligus mempunyai filosofi yang sesuai dengan tujuan kegiatan.

H. Marzuki menjelaskan bahwa ketertarikannya terhadap istilah BEGIBUNG salah satunya karena kata tersebut merepresentasikan kearifan lokal.

“Begibung merupakan kata yang berasal dari kearifan lokal. Esensinya adalah kebersamaan. Kita duduk bersama tanpa sekat, berbagi, dan menikmati kebersamaan,” jelasnya.

Filosofi tersebut kemudian diperluas. Begibung di MTsN 3 Mataram tidak harus selalu berkonotasi dengan berbagi makanan sebagaimana tradisi yang dikenal masyarakat. Begibung juga dapat bermakna berbagi ilmu, gagasan, pengalaman, inovasi, dan solusi.

“Jangan hanya dimaknai dalam konteks makanan. Kita bisa begibung ilmu, begibung memecahkan masalah, dan begibung untuk mendapatkan sesuatu yang bermanfaat,” tambah H. Marzuki.

Usai pengumuman, penghargaan diserahkan kepada pencetus nama terpilih. Apresiasi juga diberikan terhadap kreativitas guru yang ikut memberikan makna dan semangat baru pada istilah BEGIBUNG.

BEGIBUNG Berpeluang Dikembangkan Berbasis Rumpun Mata Pelajaran

Program BEGIBUNG ke depan tidak hanya diarahkan sebagai forum evaluasi umum. Kepala madrasah membuka peluang pengembangan pertemuan berdasarkan rumpun mata pelajaran.

Guru dapat dikelompokkan ke dalam rumpun MIPA, IPS, bahasa, keagamaan, maupun kelompok bidang lainnya untuk membahas persoalan pembelajaran secara lebih spesifik. Konsep tersebut diharapkan berkembang seperti forum musyawarah guru mata pelajaran dalam skala internal madrasah.

Melalui pertemuan berbasis rumpun, para guru dapat mendiskusikan metode pembelajaran, menyusun inovasi, mengevaluasi capaian siswa, memecahkan kesulitan pembelajaran, hingga menyusun program peningkatan kompetensi dasar peserta didik.

H. Marzuki juga mendorong para guru terus melahirkan ide. Kreativitas, menurutnya, tidak hanya dituntut dari siswa, tetapi harus tumbuh kuat di kalangan pendidik.

BEGIBUNG dengan demikian diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah nama program. Lebih jauh, program ini ditargetkan tumbuh menjadi budaya kerja baru yang mengedepankan komunikasi, refleksi, evaluasi, inovasi, dan kolaborasi.

Melalui forum yang berlangsung rutin setiap Sabtu tersebut, persoalan yang muncul selama sepekan dapat segera dibicarakan. Program yang akan dilaksanakan dapat dirancang bersama, sedangkan program yang telah berjalan dapat dievaluasi untuk mendapatkan perbaikan.

Semangat lokal “begibung” akhirnya memperoleh ruang baru di lingkungan pendidikan. Jika dahulu begibung menjadi simbol duduk dan berbagi bersama, di MTsN 3 Mataram semangat tersebut ditransformasikan menjadi budaya berbagi ilmu, berbagi gagasan, berbagi pengalaman, dan bersama-sama menemukan solusi.

Dengan semangat “Berbagi Ilmu, Berinovasi, Unggul” serta “Bersama Eksplorasi Gagasan dan Ide untuk MTs 3 Melambung,” BEGIBUNG diharapkan menjadi salah satu penggerak transformasi MTsN 3 Mataram menuju madrasah yang semakin maju, inovatif, disiplin, kolaboratif, dan dipercaya masyarakat.

Redaksi oleh Ruslan Wahid, ST

0 Komentar