Selamat datang di website MTsN 3 Mataram, Madrasah Uswah (Unggul, Santun, ber-Wawasan, ber-Akhlak dan Handal)

OJK NTB Bersama BSI Kenalkan Kelola Uang Bijak kepada Siswa Baru MTsN 3 Mataram


Mataram – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) bersama dengan Bank Syariah Indonesia (BSI) KCP Mataram memberikan edukasi literasi keuangan kepada seluruh murid baru MTsN 3 Mataram Tahun Pelajaran 2026/2027 yang telah dinyatakan lulus seleksi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Masa Ta'aruf Murid Madrasah (MATAMUDA) tersebut bertujuan menanamkan kebiasaan mengelola keuangan secara bijak sekaligus memperkenalkan Program KEJAR (Satu Rekening Satu Pelajar) sebagai upaya membangun budaya menabung sejak usia dini.

Sebagai bagian dari penguatan pendidikan karakter sekaligus peningkatan literasi keuangan di lingkungan madrasah, MTsN 3 Mataram menghadirkan narasumber dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi NTB dan Bank Syariah Indonesia (BSI) KCP Mataram dalam kegiatan sosialisasi yang diperuntukkan bagi seluruh murid baru Tahun Pelajaran 2026/2027.

Kegiatan ini menjadi salah satu materi penting pada pelaksanaan Masa Ta'aruf Murid Madrasah (MATAMUDA). Selain mengenalkan lingkungan belajar yang baru, para peserta juga dibekali pemahaman mengenai pentingnya mengelola keuangan secara bertanggung jawab sejak usia pelajar.

Materi pertama disampaikan oleh Melisa Indri, Analis OJK Provinsi NTB, dengan tema "Yuk Kelola Uang dengan Bijak! Kelola Uang Hari Ini, Wujudkan Mimpi Esok Hari." Materi tersebut mengajak para siswa memahami bahwa kemampuan mengelola uang merupakan bekal penting untuk mewujudkan cita-cita di masa depan.

Dalam pemaparannya, Melisa menjelaskan konsep dasar pengelolaan keuangan melalui prinsip 4M, yaitu Mendapatkan, Menabung, Menggunakan, dan Membagikan. Menurutnya, keempat kebiasaan tersebut merupakan fondasi sederhana namun sangat penting untuk membangun perilaku finansial yang sehat sejak dini.

Ia menjelaskan bahwa uang diperoleh melalui usaha, baik berupa uang saku dari orang tua, hadiah, beasiswa, maupun hasil kerja keras. Oleh karena itu, setiap rupiah yang diterima perlu dihargai dan dimanfaatkan secara bertanggung jawab.

Pada bagian tentang menabung, Melisa menekankan bahwa kebiasaan menyisihkan sebagian uang bukan hanya untuk memenuhi keinginan di masa depan, tetapi juga sebagai bentuk antisipasi terhadap kebutuhan yang tidak terduga. Menabung membantu seseorang lebih siap menghadapi berbagai situasi sekaligus melatih kesabaran dalam mencapai tujuan.

Sementara itu, pada aspek penggunaan uang, para siswa diajak memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Edukasi ini penting agar para pelajar tidak mudah tergoda membeli sesuatu hanya karena mengikuti tren, takut tertinggal (FOMO), kurang memiliki perencanaan, atau sekadar tergiur potongan harga.

Tidak kalah penting, Melisa juga mengajak para siswa membangun karakter peduli melalui kebiasaan membagikan sebagian rezeki kepada orang lain. Menurutnya, berbagi tidak harus dalam jumlah besar, namun dilakukan secara ikhlas sehingga mampu menghadirkan kebahagiaan bagi diri sendiri maupun orang lain.

Usai mendapatkan pemahaman mengenai pengelolaan keuangan, para peserta memperoleh materi kedua dari Baiq Mahyuni selaku perwakilan Bank Syariah Indonesia (BSI) KCP Mataram mengenai Program KEJAR (Satu Rekening Satu Pelajar).

Dalam pemaparannya dijelaskan bahwa Program KEJAR merupakan inisiatif pemerintah bersama OJK untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan di kalangan pelajar melalui kepemilikan rekening tabungan atas nama masing-masing siswa. Program tersebut bertujuan membentuk budaya menabung sejak dini sekaligus mendukung terciptanya generasi yang semakin melek finansial. BSI menjadi salah satu bank syariah yang berpartisipasi aktif dalam menyukseskan program nasional tersebut.


Baiq Mahyuni juga memperkenalkan sejarah singkat Bank Syariah Indonesia yang merupakan hasil penggabungan Bank Syariah Mandiri, BNI Syariah, dan BRI Syariah pada 1 Februari 2021. Ia menjelaskan bahwa BSI hadir sebagai lembaga keuangan syariah yang tidak hanya menyediakan tempat menabung yang aman, tetapi juga membantu membangun disiplin, perencanaan keuangan, serta tanggung jawab finansial bagi generasi muda.

Selain mengenalkan prinsip-prinsip dasar perbankan syariah, Baiq Mahyuni menjelaskan perbedaan mendasar antara bank syariah dan bank konvensional, mulai dari sistem operasional, mekanisme bagi hasil, hingga penyaluran pembiayaan yang berlandaskan prinsip-prinsip syariah.

Para siswa juga dikenalkan dengan produk BSI Tabungan Simpanan Pelajar (Simpel iB) yang dirancang khusus bagi peserta didik mulai dari jenjang PAUD hingga madrasah aliyah. Tabungan ini menawarkan berbagai kemudahan, di antaranya bebas biaya administrasi bulanan, setoran awal hanya Rp1.000, saldo minimum Rp1.000, serta persyaratan pembukaan rekening yang mudah dengan melampirkan Kartu Identitas Anak (KIA) atau akta kelahiran, kartu keluarga, dan KTP orang tua.

Selain itu, BSI juga memperkenalkan Tabungan Haji Muda Indonesia, sebagai sarana bagi orang tua yang ingin mulai merencanakan ibadah haji putra-putrinya sejak usia dini. Produk tersebut memberikan berbagai kemudahan, termasuk bebas biaya administrasi bulanan dan terhubung secara daring dengan Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (SISKOHAT) Kementerian Agama.

Di akhir penyampaian materi, Baiq Mahyuni mengajak seluruh murid baru membiasakan diri menabung sejak dini. Menurutnya, kebiasaan tersebut akan melatih kedisiplinan, membangun perilaku keuangan yang positif, mempersiapkan masa depan, sekaligus membantu pelajar menghindari gaya hidup konsumtif dengan membedakan kebutuhan dan keinginan.

Kegiatan sosialisasi berlangsung interaktif. Para siswa tampak antusias mengikuti setiap sesi, termasuk ketika narasumber memberikan pertanyaan seputar materi literasi keuangan dan Program KEJAR. Melalui pendekatan yang komunikatif dan disertai contoh-contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari, para murid memperoleh pemahaman bahwa pengelolaan keuangan bukan hanya menjadi tanggung jawab orang dewasa, tetapi perlu dipelajari sejak bangku madrasah.

Melalui kolaborasi antara OJK Provinsi NTB, Bank Syariah Indonesia KCP Mataram, dan MTsN 3 Mataram, diharapkan lahir generasi pelajar yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik dan karakter, tetapi juga memiliki kecakapan finansial sehingga mampu mengelola uang secara bijak, gemar menabung, serta memanfaatkan layanan keuangan formal secara aman dan bertanggung jawab.

0 Komentar