Selamat datang di website MTsN 3 Mataram, Madrasah Uswah (Unggul, Santun, ber-Wawasan, ber-Akhlak dan Handal)

Imtaq Jum'at, Kelas IX 5 MTsN 3 Mataram Sampaikan Tausiah tentang Sejarah Maulid Nabi

Imtaq Jum'at

Mataram — Kegiatan Imtaq Jumat di MTsN 3 Mataram pada Jumat (28/8/2026) berlangsung dengan khidmat dan penuh nuansa keagamaan. Kegiatan tersebut diisi oleh siswa-siswi kelas IX 5 di bawah binaan wali kelas Hj. Karyatin Zakiyah, dengan salah satu agenda utama berupa tausiah tentang sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW.

Kegiatan Imtaq menjadi salah satu sarana pembinaan keagamaan bagi peserta didik MTsN 3 Mataram. Melalui kegiatan tersebut, siswa tidak hanya mendapatkan penguatan pemahaman keislaman, tetapi juga dilatih untuk tampil di depan warga madrasah, menyampaikan pesan-pesan kebaikan, serta membangun keberanian dan rasa percaya diri.

Pada kesempatan tersebut, perwakilan kelas IX 5 oleh Fanisa bersama Bq. Nabila menyampaikan tausiah yang membahas sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus mengajak para siswa untuk mengambil hikmah dari kehidupan Rasulullah sebagai teladan bagi umat Islam.

Rangkaian acara berlangsung setelah pembukaan dan agenda awal Imtaq. Memasuki acara keempat, pembawa acara mengantarkan kegiatan pada sesi tausiah atau ceramah. Perwakilan kelas IX 5 kemudian dipersilakan menyampaikan materi di hadapan para guru dan siswa.

Dalam tausiah tersebut, disampaikan bahwa Nabi Muhammad SAW merupakan sosok pilihan Allah SWT yang memiliki kedudukan istimewa bagi umat Islam. Rasulullah SAW bukan hanya pembawa risalah Islam, tetapi juga menjadi teladan mulia yang patut dicontoh dalam berbagai aspek kehidupan.

Para penyampai tausiah mengajak hadirin untuk kembali mengingat sosok Rasulullah SAW, terutama setelah umat Islam memperingati Maulid Nabi. Momentum tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kecintaan kepada Rasulullah sekaligus menggali nilai-nilai keteladanan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Materi tausiah kemudian mengulas sejarah kelahiran Nabi Muhammad SAW dan perkembangan peringatan Maulid Nabi di tengah masyarakat.


Dalam penyampaiannya, Fanisa dan Bq. Nabila yang secara bergantian menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW dilahirkan pada 12 Rabiul Awal, yang secara umum dikaitkan dengan tahun 570 Masehi. Peringatan kelahiran Rasulullah SAW kemudian berkembang dalam sejarah umat Islam dengan berbagai bentuk dan tradisi.

Mereka juga menjelaskan bahwa mengenai awal mula peringatan Maulid Nabi terdapat sejumlah pendapat dan teori sejarah. Salah satunya mengaitkan perkembangan awal peringatan tersebut dengan Dinasti Fatimiyah di Mesir. Pendapat lain menghubungkannya dengan Sultan Salahuddin Al-Ayyubi yang menjadikan momentum tersebut sebagai sarana meningkatkan semangat umat Islam.

Materi tausiah tidak berhenti pada sejarah, tetapi juga mengajak peserta didik memahami bagaimana peringatan Maulid Nabi berkembang di Indonesia.

Dalam ceramah tersebut disampaikan bahwa tradisi peringatan Maulid Nabi di Nusantara berkembang dalam bentuk yang beragam. Masyarakat di berbagai daerah memiliki cara masing-masing dalam menyambut dan memaknai kelahiran Rasulullah SAW.

Beberapa tradisi daerah turut diperkenalkan kepada peserta Imtaq. Di Aceh, misalnya, masyarakat memiliki tradisi tersendiri dalam memperingati Maulid Nabi dengan berbagai sajian makanan. Di daerah lain juga terdapat tradisi berkumpul, berbagi makanan, dan makan bersama sebagai bentuk kebersamaan dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Khusus di Lombok, para siswa memperkenalkan tradisi mengkele, yaitu tradisi masyarakat yang berkumpul dan menikmati makanan bersama dalam satu wadah. Tradisi tersebut menjadi salah satu gambaran bagaimana nilai kebersamaan dan kekeluargaan dapat hadir dalam peringatan keagamaan.

Menurut para penyampai tausiah, keberagaman tradisi tersebut menunjukkan bahwa peringatan Maulid Nabi telah berkembang di berbagai daerah dengan karakter dan budaya masing-masing.

Namun demikian, pesan utama yang ditekankan bukan sekadar mengenal berbagai tradisi, melainkan bagaimana umat Islam dapat mengambil pelajaran dari kehidupan Rasulullah SAW.

“Yang terpenting adalah kita dapat mengingat dan meneladani Nabi Muhammad SAW.”

Pesan tersebut menjadi inti dari tausiah yang disampaikan siswa kelas IX 5. Peringatan Maulid Nabi diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi mampu mendorong peserta didik untuk menerapkan akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk menghidupkan suasana setelah tausiah selesai, penceramah dari kelas IX 5 mengajak seluruh siswa mengikuti sesi tanya jawab. Beberapa pertanyaan berkaitan dengan materi yang telah disampaikan dalam tausiah tentang sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW.

Penceramah menyiapkan hadiah bagi siswa yang mampu memberikan jawaban dengan benar. Sesi tersebut mendapat sambutan antusias dari para peserta Imtaq. Tampak sejumlah siswa dengan semangat mengangkat tangan untuk menunjukkan keinginan mereka menjawab pertanyaan.

Para siswa bahkan berlomba-lomba untuk maju ke depan. Namun, kesempatan untuk menjawab diberikan kepada siswa yang dipilih langsung oleh penceramah. Suasana pun menjadi semakin semarak ketika siswa yang terpilih menyampaikan jawabannya di hadapan teman-temannya.

Kegiatan sederhana tersebut menunjukkan bahwa pembinaan keagamaan di madrasah dapat dikemas secara interaktif dan menyenangkan. Dengan demikian, pesan-pesan keislaman yang disampaikan tidak hanya didengar, tetapi juga dipahami dan diingat oleh para siswa.

Redaksi oleh Ruslan Wahid, ST l

0 Komentar