Selamat datang di website MTsN 3 Mataram, Madrasah Uswah (Unggul, Santun, ber-Wawasan, ber-Akhlak dan Handal)

Jadi Pilot Project, Rusnan Bekali Guru MTsN 3 Mataram Terapkan KBC melalui Workshop

Rusnan Pokjawas Kemenag Kota Mataram

MATARAM – Guru-guru MTsN 3 Mataram mengikuti pendalaman implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dalam Workshop Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta yang digelar di lingkungan madrasah, Sabtu (1/8/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan Ketua Kelompok Kerja Pengawas (Pokjawas) Kementerian Agama Kota Mataram, Rusnan, M.Ag, yang juga merupakan pembina pengawas MTsN 3 Mataram menggantikan Hj. Siti Rubianingsih yang telah purna tugas. Workshop ini menjadi langkah awal bagi MTsN 3 Mataram sebagai salah satu madrasah yang ditunjuk sebagai pilot project penerapan Kurikulum Berbasis Cinta di Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Dalam penyampaian materinya, Rusnan menegaskan bahwa implementasi Kurikulum Berbasis Cinta bukan sekadar perubahan administrasi pembelajaran, melainkan transformasi cara pandang guru dalam mendidik peserta didik. Menurutnya, kurikulum tersebut bertujuan menghadirkan pembelajaran yang menyentuh hati, membangun karakter, sekaligus menciptakan suasana belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan.

Ia menjelaskan bahwa implementasi KBC akan dilaksanakan secara bertahap selama satu tahun melalui beberapa siklus yang diakhiri dengan pelaporan setiap tahap. Karena itu, seluruh proses pelaksanaan harus terdokumentasi dengan baik, mulai dari foto kegiatan, praktik pembelajaran hingga berbagai inovasi yang dilakukan guru di kelas.

"Dokumentasi menjadi bagian penting dalam implementasi. Setiap kegiatan harus tersimpan dengan baik karena akan menjadi bagian dari laporan perkembangan setiap siklus," jelasnya.

Sebagai madrasah percontohan, MTsN 3 Mataram akan mendapatkan pendampingan secara intensif. Rusnan menyampaikan bahwa dirinya telah menjadwalkan kunjungan rutin setiap pekan untuk memonitor perkembangan implementasi KBC sekaligus memberikan penguatan kepada guru.

Ia mengingatkan bahwa keberhasilan implementasi kurikulum tersebut bergantung pada komitmen seluruh warga madrasah. Komitmen tersebut, menurutnya, telah diawali melalui ikrar bersama sebagai bentuk kesiapan melaksanakan transformasi pembelajaran berbasis cinta.

Sebelum memasuki materi inti, Rusnan mengajak seluruh peserta menundukkan kepala dan memanjatkan doa agar ilmu yang dipelajari membawa keberkahan serta menjadi amal ibadah. Ia menekankan bahwa setiap proses belajar harus diawali dengan meluruskan niat agar ilmu yang diperoleh benar-benar memberikan manfaat bagi kehidupan.

Suasana workshop kemudian dibuat lebih hidup melalui berbagai aktivitas sederhana yang sarat makna. Salah satunya adalah kegiatan saling menuliskan doa dan harapan kepada rekan sejawat di atas secarik kertas yang diputar secara bergantian. Melalui kegiatan tersebut, para guru diajak membangun empati, kepedulian, serta menumbuhkan budaya saling mendoakan.

Menurut Rusnan, pembelajaran berbasis cinta harus dimulai dari hubungan antarguru sebelum diterapkan kepada peserta didik.

"Kita ingin membangun ruh pendidikan. Langkah pertama adalah saling mendoakan, saling menghargai, dan menumbuhkan cinta kepada sesama," ungkapnya.

Tidak hanya itu, peserta juga diajak mempraktikkan berbagai ice breaking yang nantinya dapat diterapkan di kelas, seperti tepuk fokus dan tepuk cinta. Aktivitas tersebut bertujuan membangun konsentrasi belajar sekaligus menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan penuh penghargaan.

Dalam kesempatan itu, Rusnan juga memperkenalkan Buku SAT Guru sebagai pegangan utama dalam implementasi Kurikulum Berbasis Cinta. Buku tersebut menjadi panduan bagi guru dalam mengintegrasikan nilai-nilai cinta ke dalam proses pembelajaran, baik di dalam maupun di luar kelas.

Ia menjelaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta bukanlah kurikulum baru yang menggantikan Kurikulum Merdeka. Sebaliknya, KBC merupakan penguatan atau insersi nilai-nilai karakter yang diintegrasikan ke dalam seluruh mata pelajaran dan aktivitas madrasah.

Menurutnya, terdapat empat ruang implementasi utama Kurikulum Berbasis Cinta, yakni pembelajaran intrakurikuler, kegiatan kokurikuler, kegiatan ekstrakurikuler, serta budaya atau iklim madrasah.

Pada pembelajaran intrakurikuler, guru diminta menyisipkan nilai-nilai cinta dalam setiap proses belajar mengajar. Sementara itu, pada kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler, nilai cinta dapat diwujudkan melalui berbagai pembiasaan karakter, kegiatan keagamaan, kepedulian sosial, cinta lingkungan, hingga cinta tanah air.

Rusnan juga menekankan pentingnya menciptakan budaya madrasah yang aman, nyaman, dan ramah. Menurutnya, lingkungan belajar yang kondusif akan membuat peserta didik merasa betah berada di kelas sehingga lebih mudah menerima pembelajaran.

Ia mendorong guru untuk berinovasi dalam menata ruang kelas agar lebih menarik, termasuk menghadirkan media pembelajaran sederhana seperti "Pohon Cinta". Melalui media tersebut, siswa dapat menuliskan doa, harapan, maupun apresiasi kepada teman-temannya sehingga budaya saling menghargai tumbuh sejak dini.

Selain lingkungan fisik, budaya komunikasi di madrasah juga menjadi perhatian. Rusnan mengajak seluruh guru membiasakan penggunaan kalimat-kalimat positif seperti "tolong", "terima kasih", "maaf", serta membangun kebiasaan menyapa peserta didik dengan ramah setiap pagi.

"Madrasah yang penuh cinta dimulai dari interaksi sederhana. Kata-kata yang baik akan membentuk karakter yang baik," katanya.

Pada sesi berikutnya, Rusnan memaparkan strategi teknis penyusunan perangkat pembelajaran berbasis Kurikulum Berbasis Cinta. Ia menguraikan bahwa langkah pertama yang harus dilakukan guru adalah menganalisis Capaian Pembelajaran (CP) setiap mata pelajaran untuk menemukan "benang merah" yang dapat dihubungkan dengan nilai-nilai Panca Cinta.

Menurutnya, guru tidak perlu mengubah Capaian Pembelajaran yang telah ditetapkan pemerintah. Yang diperlukan adalah kemampuan menemukan kata-kata kunci dalam CP yang dapat diintegrasikan dengan nilai cinta kepada Allah dan Rasul, cinta ilmu, cinta diri dan sesama, cinta lingkungan, maupun cinta bangsa dan tanah air.

Ia memberikan contoh sederhana pada mata pelajaran Bahasa Inggris. Kata "berinteraksi" dan "berkomunikasi" dalam CP dapat dihubungkan dengan nilai cinta kepada sesama melalui komunikasi yang santun dan saling menghargai.

Setelah pemetaan CP selesai dilakukan, guru diarahkan menyusun tujuan pembelajaran, modul ajar, serta Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang mengintegrasikan nilai-nilai Panca Cinta.

Rusnan juga mengingatkan bahwa penyusunan modul ajar harus diawali dengan identifikasi karakteristik peserta didik, materi pembelajaran, tujuan pembelajaran, asesmen, hingga lembar kerja peserta didik (LKPD). Seluruh komponen tersebut harus saling berkaitan sehingga pembelajaran tidak hanya berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga sikap dan keterampilan.

Ia menegaskan bahwa tujuan pembelajaran tidak cukup hanya menggunakan kata kerja seperti "menjelaskan" atau "menyebutkan". Guru perlu merancang tujuan pembelajaran yang mendorong peserta didik menunjukkan sikap menghargai, peduli, bekerja sama, serta mampu mempraktikkan nilai-nilai yang dipelajari.

Dalam pemilihan model pembelajaran, Rusnan merekomendasikan penggunaan pendekatan yang memberi ruang refleksi dan pengalaman langsung kepada peserta didik, seperti model MAM, ARKA maupun FIT. Ketiga model tersebut dinilai mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna karena melibatkan aktivitas, refleksi, praktik, dan berbagi pengalaman.

Melalui berbagai contoh implementasi yang disampaikan, guru-guru MTsN 3 Mataram memperoleh gambaran bahwa Kurikulum Berbasis Cinta tidak menambah beban administrasi pembelajaran. Sebaliknya, kurikulum tersebut memperkuat proses belajar agar lebih humanis, menyenangkan, dan mampu menyentuh hati peserta didik.

Sebagai madrasah yang dipercaya menjadi pilot project penerapan Kurikulum Berbasis Cinta, MTsN 3 Mataram diharapkan mampu menjadi contoh praktik baik implementasi pembelajaran yang mengedepankan nilai kasih sayang, penghargaan, empati, dan pembentukan karakter. 

Dengan pendampingan berkelanjutan dari Pokjawas Kementerian Agama Kota Mataram, seluruh guru diharapkan mampu mengimplementasikan nilai-nilai Panca Cinta secara konsisten dalam setiap aktivitas pembelajaran sehingga tercipta budaya madrasah yang benar-benar menghadirkan pendidikan yang bermakna, berkesadaran, dan menggembirakan bagi seluruh peserta didik.

Redaksi oleh Ruslan Wahid, ST

0 Komentar