MTsN3Mataram- Kegiatan Imtaq Jumat (21/8/26) di madrasah berlangsung dengan penuh khidmat dan sarat pesan keagamaan. Pada kesempatan tersebut, siswa Kelas IX 4 bertugas mengisi rangkaian kegiatan, salah satunya melalui tausiah yang disampaikan oleh Nora dan Has secara bergantian. Tausiah mengangkat tema tentang kesabaran sebagai salah satu kunci untuk memperoleh ketenangan dalam menjalani kehidupan.
Kegiatan Imtaq Jumat menjadi salah satu sarana pembinaan keagamaan bagi peserta didik. Selain meningkatkan keimanan dan ketakwaan, kegiatan tersebut juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar tampil di hadapan warga madrasah, menyampaikan pesan-pesan positif, serta mengembangkan keberanian dan kemampuan berkomunikasi.
Rangkaian kegiatan kemudian memasuki acara keempat, yaitu tausiah atau ceramah. Petugas mempersilakan Nora dan Has untuk menyampaikan materi keagamaan yang telah dipersiapkan.
Mengawali tausiah, Nora dan Has mengajak seluruh hadirin untuk bersyukur atas nikmat kesehatan, keimanan, serta kesempatan untuk berkumpul dalam kegiatan yang penuh keberkahan. Mereka juga menyampaikan selawat dan salam kepada Nabi Muhammad saw.
Dalam tausiah tersebut, disampaikan tema “Secangkir Kesabaran, Seteguk Ketenangan”. Pesan utama yang disampaikan adalah bahwa kesabaran bukan sekadar sikap diam atau menunggu, melainkan sebuah sikap aktif dalam menjalani kehidupan dan menghadapi berbagai keadaan.
Menurut Nora dan Has, terdapat tiga bentuk kesabaran yang perlu dimiliki setiap muslim. Pertama, sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Swt. Kedua, sabar dalam meninggalkan perbuatan maksiat. Ketiga, sabar dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan kehidupan.
Ketiga bentuk kesabaran tersebut menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter peserta didik. Dalam kehidupan sehari-hari, siswa menghadapi berbagai tantangan, baik dalam belajar, berinteraksi dengan teman, menaati aturan, maupun menghadapi persoalan pribadi. Karena itu, kemampuan bersabar diperlukan agar setiap persoalan dapat dihadapi dengan pikiran dan hati yang lebih tenang.
Nora dan Has juga mengutip firman Allah Swt. dalam Al-Qur'an Surah Az-Zumar ayat 10 yang menjelaskan bahwa orang-orang yang bersabar akan mendapatkan pahala tanpa batas.
Pesan tersebut kemudian disampaikan dengan bahasa sederhana dan dekat dengan kehidupan siswa. Kesabaran diibaratkan seperti sebuah tabungan pahala yang tidak memiliki batas. Sementara itu, ketenangan menjadi salah satu buah yang dapat dirasakan oleh seseorang ketika mampu bersabar dalam menghadapi keadaan.
“Kesabaran itu bukan berarti kita hanya diam. Sabar adalah kemampuan untuk tetap teguh dalam ketaatan, menjauhi maksiat, dan menghadapi ujian,” demikian pesan yang disampaikan dalam tausiah tersebut.
Untuk memperkuat materi, Nora dan Has juga mengangkat kisah Nabi Ayyub a.s. sebagai salah satu teladan dalam kesabaran. Nabi Ayyub a.s. dikenal sebagai sosok yang menghadapi ujian berat dalam kehidupannya, tetapi tetap menunjukkan kesabaran dan keteguhan iman kepada Allah Swt.
Dari kisah tersebut, siswa diajak memahami bahwa ujian tidak selalu menjadi pertanda buruk. Sebaliknya, ujian dapat menjadi sarana untuk meningkatkan keimanan, melatih kesabaran, dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Tausiah juga mengingatkan bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan harapan. Ada saat ketika seseorang memperoleh kebahagiaan, tetapi ada pula masa ketika menghadapi kesulitan, kekecewaan, atau keadaan yang tidak sesuai dengan rencana.
Dalam kondisi tersebut, seseorang tidak boleh terburu-buru menyerah. Proses yang sedang dijalani dapat menjadi bagian dari rencana Allah Swt. Oleh karena itu, kesabaran perlu disertai keyakinan bahwa Allah Swt. mengetahui setiap keadaan yang dialami hamba-Nya.
“Ketenangan tidak selalu datang karena masalah telah selesai, tetapi karena hati yakin bahwa Allah tidak pernah tidur dan tidak pernah melupakan hamba-Nya,” menjadi salah satu pesan penting dalam tausiah tersebut.
Pesan tersebut sangat relevan bagi peserta didik. Dalam proses pendidikan, siswa tentu menghadapi berbagai tantangan, mulai dari tugas pembelajaran, ujian, hubungan pertemanan, hingga tuntutan untuk menjadi pribadi yang lebih disiplin dan bertanggung jawab. Kesabaran dapat membantu siswa menghadapi semua proses tersebut tanpa mudah menyerah.
Setelah menyampaikan materi, Nora dan Has mengajak peserta untuk mengikuti sesi tanya jawab. Pertanyaan pertama berkaitan dengan tiga bentuk kesabaran yang telah dijelaskan dalam tausiah.
Salah seorang siswa, Nuair Muhammad Autran dari Kelas 8.3, berhasil menjawab dengan menyebutkan tiga bentuk kesabaran, yaitu sabar dalam ketaatan, sabar dalam meninggalkan maksiat, dan sabar dalam menghadapi ujian. Jawaban tersebut mendapat apresiasi karena sesuai dengan materi yang telah disampaikan.
Pertanyaan berikutnya berkaitan dengan sosok nabi yang dikenal sangat sabar ketika menghadapi ujian. Peserta kemudian menjawab bahwa nabi yang dimaksud adalah Nabi Ayyub a.s.
Pada pertanyaan terakhir, peserta diminta menyebutkan judul tausiah yang baru saja disampaikan. Salah seorang siswa dari kelas 8 menjawab, “Secangkir Kesabaran, Seteguk Ketenangan.” Jawaban tersebut dinyatakan benar oleh penyampai tausiah.
Sesi tanya jawab membuat kegiatan menjadi lebih interaktif. Peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga diajak mengingat kembali pesan-pesan utama yang telah disampaikan.
Pesan yang disampaikan Nora dan Has menunjukkan bahwa menjadi pribadi yang tenang bukan berarti hidup tanpa masalah. Justru ketenangan lahir dari keyakinan, kesabaran, dan kemampuan untuk tetap berada di jalan yang benar ketika menghadapi berbagai keadaan.
Tausiah Kelas IX 4 pun menjadi pengingat bahwa setiap proses membutuhkan kesabaran. Ketika kehidupan terasa pahit seperti kopi, manusia tetap perlu menjalani proses dengan penuh keyakinan. Sebab, sebagaimana pesan yang disampaikan dalam tausiah, orang yang paling tenang bukanlah orang yang tidak memiliki masalah, melainkan orang yang mengetahui kepada siapa harus mengadu.
Redaksi oleh Ruslan Wahid, ST.

0 Komentar