Mataram — Pelaksanaan upacara bendera rutin Senin di MTsN 3 Mataram pada Senin, 31 Agustus 2026, berlangsung dengan tertib dan penuh khidmat. Upacara yang diikuti oleh seluruh peserta didik, dewan guru, serta jajaran madrasah tersebut bertugas dengan siswa kelas IX-5 sebagai petugas upacara. Sementara itu, amanat pembina upacara disampaikan oleh L. Saifullah, S.Pd.
Dalam amanatnya, L. Saifullah menekankan pentingnya penerapan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dalam kehidupan sehari-hari di Lo lp
lingkungan madrasah. Menurutnya, KBC tidak hanya dipahami sebagai konsep pembelajaran, tetapi harus diwujudkan melalui sikap, ucapan, perilaku, dan hubungan sosial seluruh warga madrasah.
L. Saifullah menjelaskan bahwa cinta merupakan perasaan yang luas dan tidak mudah didefinisikan secara sederhana. Namun, dalam konteks kehidupan di madrasah, nilai cinta dapat diwujudkan melalui perilaku yang mencerminkan kasih sayang, kepedulian, kebersamaan, dan penghormatan kepada sesama.
Menurutnya, Kurikulum Berbasis Cinta harus hadir dalam berbagai aktivitas peserta didik, bukan hanya ketika proses pembelajaran berlangsung.
"Kurikulum Berbasis Cinta ini mengajarkan kepada kita bagaimana di madrasah ini kita mewujudkan perasaan cinta atau kasih sayang dalam pergaulan sehari-hari." Ujarnya.
Ia menegaskan bahwa setiap ucapan, cara bergaul, maupun aktivitas peserta didik hendaknya dilandasi oleh kasih sayang. Dengan demikian, lingkungan madrasah diharapkan menjadi tempat yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi seluruh warga madrasah.
Salah satu bentuk sederhana implementasi KBC yang disampaikan L. Saifullah adalah membiasakan diri berdoa sebelum dan sesudah melakukan aktivitas.
Ia mengingatkan peserta didik untuk mengawali pembelajaran dengan doa sebagai bentuk kecintaan kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya sekaligus memohon rida serta keberkahan dalam menuntut ilmu.
Kebiasaan tersebut juga dapat diterapkan dalam berbagai aktivitas lain, seperti berdoa sebelum dan sesudah makan serta berdoa sebelum dan sesudah belajar.
Menurutnya, penerapan KBC dapat dimulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
"Mulai dari yang kecil-kecil dulu. Doa makan, doa belajar, doa salat, dan sebagainya. Itu yang dipraktikkan terlebih dahulu," pesannya kepada para peserta didik.
Kebiasaan sederhana tersebut diharapkan dapat membentuk karakter religius sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa setiap aktivitas yang dilakukan harus memiliki nilai dan tujuan yang baik.
Selain aspek religius, L. Saifullah memberikan perhatian khusus terhadap pola pergaulan peserta didik di lingkungan madrasah.
Ia mengingatkan seluruh siswa agar tidak saling mengejek, mengolok-olok, atau menggunakan nama orang tua sebagai bahan candaan. Menurutnya, kebiasaan tersebut dapat melukai perasaan orang lain dan berpotensi menimbulkan konflik antarteman.
Ia mengajak siswa membangun hubungan pertemanan yang dilandasi rasa saling menghormati dan menghargai.
"Pada saat Ananda bergaul, tidak boleh saling mengejek dan saling mengolok. Apalagi mengolok nama orang tua teman. Itu juga tidak boleh," tegasnya.
Pesan tersebut menjadi bagian penting dari penerapan KBC karena kasih sayang tidak hanya diwujudkan melalui kata-kata yang baik, tetapi juga melalui kemampuan menjaga perasaan orang lain.
Sebaliknya, peserta didik didorong untuk membangun budaya senyum, salam, sapa, toleransi, kerja sama, dan kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan budaya tersebut, diharapkan hubungan antarsiswa, maupun antara siswa dengan guru, semakin akrab dan harmonis.
Lebih lanjut, L. Saifullah mengajak seluruh warga madrasah untuk bersama-sama menciptakan suasana yang mencerminkan kasih sayang.
Ia menegaskan bahwa nilai cinta bukan berarti menghilangkan ketegasan atau perbedaan pendapat. Perbedaan pandangan tetap dapat terjadi, tetapi harus disampaikan dengan cara yang baik dan tidak berubah menjadi pertengkaran.
"Pokoknya cinta, sayang, sehingga bisa menimbulkan suasana keakraban di madrasah kita," ujarnya.
Menurutnya, penerapan nilai kasih sayang juga berlaku dalam hubungan antara guru dan siswa serta antarwarga madrasah. Interaksi yang sehat akan menciptakan lingkungan pendidikan yang mendukung perkembangan akademik sekaligus pembentukan karakter peserta didik.
Menariknya, dalam amanat tersebut L. Saifullah juga mengajak seluruh peserta upacara mempraktikkan Tepuk Pancinta sebagai bagian dari penguatan budaya Kurikulum Berbasis Cinta di madrasah.
Tepuk tersebut memuat sejumlah nilai utama yang perlu ditanamkan kepada peserta didik, yakni kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, kecintaan terhadap ilmu, alam dan lingkungan, diri sendiri dan sesama, serta tanah air.
Tepuk Pancinta kemudian ditutup dengan identitas madrasah sebagai penguat semangat dan kebersamaan warga MTsN 3 Mataram.
Antusiasme peserta upacara terlihat ketika mereka bersama-sama mengikuti arahan pembina upacara. Aktivitas tersebut menjadi cara sederhana dan menyenangkan untuk menanamkan pesan karakter kepada siswa.
L. Saifullah berharap Tepuk Pancinta tidak berhenti pada pelaksanaan upacara, tetapi dapat diterapkan kembali dalam kegiatan pembelajaran dan aktivitas siswa di kelas.
Ia menyampaikan bahwa MTsN 3 Mataram menjadi bagian dari pilot project Kurikulum Berbasis Cinta, sehingga seluruh warga madrasah memiliki peran penting dalam menyukseskan implementasinya.
Amanat yang disampaikan L. Saifullah memberikan pesan bahwa pendidikan di madrasah tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan pribadi peserta didik yang berakhlak, peduli, toleran, dan mampu menghargai orang lain.
Redaksi oleh Ruslan Wahid, ST

0 Komentar