Mataram,— MTsN 3 Mataram memperkuat komitmennya dalam menerapkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dengan menggelar sosialisasi penerapan KBC yang dirangkaikan dengan rapat bulanan September 2026, Sabtu (5/9/2026). Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh guru dan staf karyawan MTsN 3 Mataram sebagai bagian dari upaya menyamakan persepsi dan memperkuat implementasi nilai-nilai KBC dalam kehidupan madrasah.
MTsN 3 Mataram dipercaya menjadi salah satu madrasah yang menjadi pilot projek atau lembaga piloting KBC. Kepercayaan tersebut menjadi bagian penting dalam upaya madrasah mengembangkan budaya pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter, akhlak, kepedulian, dan kecintaan terhadap sesama serta lingkungan.
Dalam arahannya, Kepala MTsN 3 Mataram, H. Marzuki, menyampaikan bahwa status sebagai salah satu lembaga piloting KBC merupakan amanah yang perlu dilaksanakan secara sungguh-sungguh. Untuk mendukung pelaksanaan program tersebut, madrasah juga telah menetapkan ketua tim yang bertugas mengoordinasikan implementasi KBC di lingkungan MTsN 3 Mataram.
Menurutnya, berbagai program yang telah digagas dan disiapkan bersama diharapkan tidak berhenti pada tataran administrasi, tetapi benar-benar memberikan dampak terhadap kualitas pendidikan dan pengembangan madrasah.
Ia berharap penerapan KBC dapat menjadi bagian dari budaya madrasah yang diterapkan secara konsisten oleh seluruh warga madrasah.
"Program yang telah kita gagas bersama ini diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas dan pengembangan madrasah," ujar H. Marzuki.
Sosialisasi KBC Tekankan Penguatan Budaya Madrasah
Sosialisasi KBC disampaikan secara lebih detail oleh Ketua Tim KBC MTsN 3 Mataram, Saifullah, S.Pd. Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa sosialisasi bukan sekadar memenuhi kebutuhan administratif, melainkan menjadi momentum untuk membangun pemahaman bersama tentang bagaimana KBC diterapkan dalam aktivitas sehari-hari di madrasah.
Saifullah mengajak seluruh guru dan staf untuk menjadikan KBC sebagai bagian dari praktik pendidikan. Menurutnya, keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada konsistensi seluruh warga madrasah dalam menerapkan nilai-nilai yang telah disepakati.
Salah satu hal yang ditekankan adalah Panca Cinta yang menjadi semangat dalam pelaksanaan KBC. Bersama seluruh peserta rapat, Saifullah mengajak warga madrasah menggaungkan lima nilai cinta, yaitu cinta Allah dan Rasul-Nya, cinta ilmu, cinta alam dan lingkungan, cinta diri dan sesama, serta cinta tanah air.
Panca Cinta tersebut diharapkan tidak hanya menjadi slogan, tetapi menjadi jiwa dalam berbagai aktivitas pendidikan di MTsN 3 Mataram.
"Yang terpenting bukan hanya kita mengetahui konsepnya, tetapi bagaimana nilai-nilai tersebut dapat diterapkan dalam keseharian dan dirasakan manfaatnya oleh peserta didik," jelasnya.
Dua Dimensi Menjadi Fokus Tahap Awal
Saifullah menjelaskan bahwa dalam penerapan KBC terdapat beberapa dimensi yang perlu diperhatikan. Untuk tahap awal implementasi di MTsN 3 Mataram, terdapat dua dimensi yang menjadi perhatian utama, yakni dimensi spiritual dan dimensi personal.
Pada dimensi spiritual, sejumlah pembiasaan sebenarnya telah berjalan di madrasah. Di antaranya kegiatan berdoa sebelum dan sesudah pembelajaran, pelaksanaan salat duha, salat zuhur, tadarus, serta pembiasaan berdoa sebelum makan dan minum.
Namun, Saifullah menekankan pentingnya memperkuat makna di balik pembiasaan tersebut. Guru diharapkan dapat membantu peserta didik memahami bahwa belajar merupakan bagian dari ibadah.
Guru juga diharapkan mengondisikan kelas sebelum pembelajaran dimulai dengan mengarahkan peserta didik untuk meluruskan niat. Dengan demikian, kegiatan belajar tidak dipandang sekadar sebagai rutinitas, tetapi sebagai proses menuntut ilmu yang memiliki nilai ibadah.
Selain itu, guru didorong untuk mengintegrasikan materi pembelajaran dengan nilai-nilai keagamaan, termasuk mengaitkan materi dengan ayat-ayat Al-Qur'an yang relevan.
"Guru diharapkan mengaitkan materi pembelajaran dengan nilai agama dan memberikan keteladanan akhlak Rasulullah kepada peserta didik," ungkap Saifullah.
Penguatan Adab dan Keteladanan Guru
Implementasi KBC juga diarahkan pada pembentukan adab peserta didik. Guru diharapkan mampu memberikan keteladanan melalui sikap, tutur kata, cara berinteraksi, kedisiplinan, serta kepedulian terhadap lingkungan.
Menurut Saifullah, keteladanan merupakan bagian penting dalam pendidikan karakter. Karena itu, guru tidak cukup hanya menyampaikan nasihat, tetapi juga perlu memberikan contoh konkret yang dapat dilihat dan ditiru peserta didik.
Hal sederhana seperti menjaga kebersihan lingkungan dapat menjadi media pendidikan. Ketika melihat sampah, misalnya, guru dapat mengambil dan membuangnya pada tempat yang semestinya. Tindakan sederhana tersebut dapat memberikan pesan kuat kepada peserta didik tentang pentingnya kepedulian terhadap lingkungan.
"Kalau kita ingin anak-anak memiliki kebiasaan baik, maka guru harus terlebih dahulu memberikan contoh dalam kehidupan sehari-hari," katanya.
Dalam aspek personal, penerapan KBC juga diarahkan agar nilai-nilai positif tumbuh dalam diri peserta didik tanpa selalu harus diperintah. Pembiasaan salam, sopan santun, penghormatan kepada guru, kepatuhan terhadap instruksi, serta menjaga adab belajar diharapkan tumbuh menjadi karakter.
Budaya 5S—senyum, salam, sapa, sopan, dan santun juga terus diperkuat sebagai bagian dari interaksi warga madrasah.
Komunikasi Guru dan Siswa Perlu Diperkuat
Dalam pemaparannya, Saifullah juga menyoroti sejumlah tantangan yang dihadapi guru dalam membangun kedisiplinan dan pembiasaan peserta didik.
Ia mencontohkan kondisi saat pelaksanaan berbagai kegiatan pembiasaan maupun ketika peserta didik mengikuti program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, masih terdapat peserta didik yang membutuhkan pendampingan agar mampu mengikuti aturan dan menjaga ketertiban.
Kondisi tersebut, menurut Saifullah, perlu menjadi bahan evaluasi bersama. Pendekatan kepada peserta didik tidak semata-mata dilakukan melalui teguran, tetapi juga melalui komunikasi yang baik.
Guru diharapkan mampu memahami kondisi peserta didik, membangun kedekatan yang sehat, sekaligus tetap memberikan batasan yang jelas mengenai perilaku yang sesuai dengan tata tertib dan nilai madrasah.
Rencana Program Penguatan Kepedulian Siswa
Selain pembiasaan yang sudah berjalan, Tim KBC juga menyampaikan sejumlah gagasan program yang dapat dikembangkan di madrasah.
Salah satunya adalah program infaq/kepedulian kelas yang diharapkan dapat melatih peserta didik untuk berbagi, peduli terhadap kebutuhan bersama, serta membangun semangat gotong royong.
Dana yang terkumpul dapat dikelola untuk kebutuhan kelas maupun kegiatan sosial sesuai dengan mekanisme yang akan disepakati bersama.
Program lainnya adalah penyediaan kotak saran atau kotak aduan sebagai sarana bagi peserta didik untuk menyampaikan masukan, keluhan, maupun persoalan yang mereka hadapi di lingkungan madrasah.
Saifullah menilai keberadaan ruang pengaduan yang aman dan terarah penting untuk memastikan berbagai persoalan peserta didik dapat diketahui dan ditangani sejak dini, termasuk persoalan perundungan atau bullying.
"Anak-anak perlu memiliki tempat untuk menyampaikan persoalan yang mereka alami. Karena itu, kita perlu menyiapkan mekanisme yang jelas agar setiap laporan dapat ditindaklanjuti dan tidak dibiarkan," ujarnya.
Gagasan tersebut selanjutnya akan dikoordinasikan dengan kepala madrasah dan pihak terkait untuk menentukan bentuk serta mekanisme pelaksanaannya.
KBC Diharapkan Menjadi Budaya, Bukan Sekadar Program
Sosialisasi yang berlangsung dalam rapat bulanan tersebut menjadi momentum bagi seluruh guru dan staf MTsN 3 Mataram untuk memperkuat komitmen dalam menjalankan KBC.
Sebagai madrasah piloting, MTsN 3 Mataram memiliki tanggung jawab untuk menerjemahkan konsep KBC ke dalam praktik nyata yang dapat dirasakan peserta didik. Implementasi tersebut dimulai dari hal-hal sederhana, seperti niat belajar, doa, keteladanan guru, adab, kepedulian terhadap lingkungan, budaya saling menghormati, hingga tersedianya ruang komunikasi bagi peserta didik.
Dengan keterlibatan seluruh guru dan staf, KBC diharapkan berkembang menjadi budaya yang melekat dalam kehidupan madrasah. Nilai-nilai cinta yang menjadi landasannya diharapkan mampu membentuk peserta didik yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga berkarakter, berakhlak, peduli, dan memiliki tanggung jawab terhadap diri sendiri, sesama, lingkungan, bangsa, dan agama.


0 Komentar