Imtaq Jumat, Kelas VIII 1 Ajak Siswa Move On dari Rasa Iri dan Dengki
Mataram- Kegiatan Imtaq Jumat kembali menjadi salah satu sarana pembinaan karakter dan penguatan nilai keagamaan bagi siswa madrasah.
Pada Jumat, 4 September 2026, pelaksanaan Imtaq dipercayakan kepada siswa Kelas VIII 1 yang tampil sebagai petugas sekaligus memberikan pesan keagamaan kepada seluruh peserta.
Salah satu bagian yang menarik perhatian dalam kegiatan tersebut adalah penyampaian tausiah oleh perwakilan Kelas VIII 1, Ara dan Tira.
Keduanya mengangkat tema “Move On dari Hati yang Sering Iri”, sebuah tema yang dekat dengan kehidupan remaja dan relevan dengan tantangan pergaulan siswa sehari-hari.
Dalam penyampaiannya, Ara dan Tira membuka ceramah dengan mengajak teman-temannya memahami makna move on.
Istilah yang umumnya digunakan untuk menggambarkan seseorang yang berusaha meninggalkan masa lalu tersebut kemudian mereka kaitkan dengan persoalan hati, khususnya keinginan untuk melepaskan diri dari rasa iri terhadap orang lain.
Menurut mereka, kehidupan remaja tidak jarang diwarnai kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Ketika melihat teman yang memiliki prestasi lebih baik, lebih pintar, lebih cantik, atau mendapatkan sesuatu yang diinginkan, terkadang muncul rasa iri.
Padahal, menurut pesan yang disampaikan dalam tausiah tersebut, setiap orang memiliki perjalanan, kemampuan, rezeki, dan ujian masing-masing.
“Kadang kita melihat keberhasilan orang lain, tetapi tidak melihat perjuangan dan masalah yang mungkin sedang mereka hadapi,” menjadi salah satu pesan penting yang disampaikan dalam ceramah tersebut.
Ara dan Tira juga mengingatkan bahwa rasa iri justru dapat merugikan diri sendiri. Seseorang yang terlalu memikirkan pencapaian orang lain dapat mengalami tekanan, kehilangan rasa syukur, bahkan lupa untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya.
Mereka mengajak para siswa untuk mengubah rasa iri menjadi motivasi. Ketika melihat teman berhasil, seharusnya keberhasilan tersebut dapat menjadi inspirasi untuk berusaha lebih baik, bukan menjadi alasan untuk merasa rendah diri atau tidak senang atas keberhasilan orang lain.
Rezeki Setiap Hamba Telah Diatur Allah
Pesan berikutnya yang ditekankan dalam tausiah adalah keyakinan bahwa Allah Swt. merupakan Zat Yang Maha Adil dalam memberikan rezeki kepada setiap hamba-Nya.
Ara dan Tira menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki bagian dan jalan kehidupan masing-masing.
Karena itu, membandingkan rezeki diri sendiri dengan rezeki orang lain secara berlebihan hanya akan membuat hati menjadi tidak tenang.
Rasa iri terhadap rezeki orang lain bahkan dapat membawa seseorang pada prasangka buruk terhadap ketentuan Allah. Padahal, seorang muslim hendaknya meyakini bahwa Allah memiliki perhitungan dan ketetapan yang terbaik bagi setiap hamba.
Pesan tersebut menjadi pengingat bagi para siswa agar tidak mudah merasa kurang hanya karena melihat kelebihan yang dimiliki orang lain.
Bahaya Hasad bagi Amal Kebaikan
Dalam tausiah tersebut, Ara dan Tira juga mengingatkan tentang bahaya sifat hasad atau iri dengki. Mereka mengutip hadis Rasulullah saw. yang menjelaskan bahwa sifat hasad dapat menghilangkan kebaikan sebagaimana api membakar kayu bakar.
Pesan hadis tersebut menjadi penekanan bahwa menjaga kebersihan hati merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang muslim.
Amal ibadah tidak hanya berkaitan dengan aktivitas yang terlihat, tetapi juga dengan kondisi hati dan sikap terhadap sesama.
Dengan demikian, siswa diajak untuk tidak hanya rajin beribadah, tetapi juga belajar menjaga hati dari kebencian, iri, dengki, dan keinginan melihat orang lain kehilangan nikmat.
Tiga Cara Menghindari Rasa Iri
Untuk membantu teman-temannya mengatasi rasa iri, Ara dan Tira menyampaikan tiga cara sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pertama, membiasakan diri mengucapkan “Barakallah”. Ketika melihat orang lain memperoleh keberhasilan atau nikmat, siswa diajak mendoakan keberkahan bagi orang tersebut. Kebiasaan tersebut dapat membantu mengubah respons negatif menjadi doa dan energi positif.
Kedua, melihat ke bawah dalam urusan duniawi. Maksudnya, seseorang perlu menyadari bahwa masih banyak orang yang berada dalam kondisi lebih sulit. Kesadaran tersebut diharapkan dapat menumbuhkan rasa syukur atas berbagai nikmat yang telah dimiliki.
Ketiga, menyadari bahwa setiap orang mempunyai paket ujian masing-masing. Apa yang terlihat dari kehidupan seseorang belum tentu menggambarkan keseluruhan kehidupannya. Seseorang yang tampak berhasil dan bahagia bisa saja sedang menghadapi persoalan yang tidak diketahui orang lain.
Karena itu, para siswa diajak untuk tidak mudah membandingkan kehidupan mereka dengan kehidupan teman maupun orang lain yang mereka lihat.
Dikemas Interaktif dengan Pertanyaan dan Hadiah
Penyampaian tausiah tidak berhenti pada ceramah satu arah. Ara dan Tira juga mengajak peserta berinteraksi melalui sesi pertanyaan sederhana berkaitan dengan materi yang telah disampaikan.
Beberapa pertanyaan diberikan kepada peserta, di antaranya mengenai judul ceramah, hadis yang menjelaskan bahaya hasad, serta salah satu cara agar tidak mudah merasa iri.
Suasana semakin menarik ketika peserta diajak menjawab pertanyaan mengenai persentase anak muda yang disebutkan dalam materi sebagai kelompok yang mengalami kesulitan untuk move on. Interaksi tersebut membuat pesan keagamaan yang disampaikan terasa lebih dekat dengan dunia remaja.
Pemberian hadiah kepada peserta yang mampu menjawab pertanyaan juga menjadi bentuk apresiasi sekaligus membuat kegiatan berlangsung lebih hidup.

0 Komentar