Selamat datang di website MTsN 3 Mataram, Madrasah Uswah (Unggul, Santun, ber-Wawasan, ber-Akhlak dan Handal)

Rapat Bulanan Oktober 2026, Kepala MTsN 3 Mataram Tekankan Disiplin dan Profesionalisme


MATARAM
– Kepala Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 3 Mataram, H. Marzuki, menekankan pentingnya disiplin, profesionalisme, keteladanan, dan tanggung jawab bersama dalam meningkatkan mutu pendidikan madrasah. Pesan tersebut disampaikan dalam arahan pada rapat bulanan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan MTsN 3 Mataram, pada Sabtu (10/10/26). Pertemuan rutin ini menjadi sarana mempererat silaturahmi, mengevaluasi pelaksanaan tugas, serta menyelaraskan langkah dalam mendukung program dan pelayanan pendidikan di lingkungan madrasah.

Dalam arahannya, H. Marzuki mengajak seluruh peserta rapat untuk mensyukuri nikmat kesehatan, kesempatan, iman, dan Islam yang memungkinkan mereka berkumpul serta menjalankan amanah sebagai bagian dari lembaga pendidikan. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga hubungan baik antarsesama warga madrasah sebagai modal untuk membangun lingkungan kerja yang harmonis dan produktif.

Menurutnya, rapat bulanan bukan sekadar agenda administratif, melainkan kesempatan bagi seluruh tenaga pendidik dan tenaga kependidikan untuk bertemu dalam satu forum, berbagi masukan, serta memperkuat komitmen terhadap tugas masing-masing.

"Kita mungkin sehari-hari berada di ruangan, tempat, dan aktivitas yang berbeda. Namun, melalui pertemuan bulanan ini, kita memiliki kesempatan untuk kembali mempererat silaturahmi dan saling memberikan masukan," demikian pesan H. Marzuki dalam arahannya.

Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh guru dan tenaga kependidikan yang telah hadir serta kepada para petugas yang menjalankan tanggung jawab dalam rangkaian kegiatan pembukaan rapat. Pelaksanaan tugas tersebut, menurutnya, merupakan bagian dari kontribusi setiap individu dalam menjaga ketertiban dan kelancaran kegiatan madrasah.

Menjaga Kesehatan dan Memaksimalkan Pengabdian

Dalam suasana penuh kekeluargaan, H. Marzuki mengingatkan bahwa kesehatan merupakan nikmat yang sangat berharga. Dengan kondisi tubuh yang sehat, seluruh warga madrasah diharapkan mampu menjalankan tugas secara optimal dan memberikan pelayanan pendidikan terbaik kepada peserta didik.

Ia mengajak para guru dan tenaga kependidikan untuk memanfaatkan masa pengabdian dengan sebaik-baiknya. Setiap amanah yang diberikan hendaknya dijalankan dengan kesungguhan, keikhlasan, dan tanggung jawab.

Menurutnya, profesi di bidang pendidikan memiliki nilai pengabdian yang besar karena hasilnya tidak hanya terlihat dalam waktu singkat, tetapi juga dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi kehidupan peserta didik.

Ilmu, nilai, dan keteladanan yang diberikan oleh seorang guru akan menjadi bagian dari bekal kehidupan siswa. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh tenaga pendidik untuk terus meningkatkan kualitas pengabdian, terutama dalam membimbing generasi muda agar tumbuh menjadi pribadi yang berpengetahuan, berakhlak baik, dan bertanggung jawab.

H. Marzuki juga mengingatkan pentingnya menjaga semangat kerja hingga akhir masa pengabdian. Setiap warga madrasah diharapkan meninggalkan jejak kebaikan melalui tugas yang dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.

Guru Harus Menjadi Teladan bagi Peserta Didik

Salah satu poin penting dalam arahan Kepala Madrasah adalah keteladanan guru dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, tanggung jawab seorang guru tidak terbatas pada penyampaian materi pelajaran atau penyelesaian administrasi pembelajaran.

Guru juga memiliki peran penting dalam membentuk karakter peserta didik melalui perilaku, kedisiplinan, penampilan, dan kebiasaan yang ditunjukkan di lingkungan madrasah.

Karena itu, kesiapan perangkat pembelajaran, ketepatan waktu, dan pelaksanaan tugas mengajar harus berjalan beriringan dengan sikap profesional serta penampilan yang rapi dan pantas.

"Anak-anak kita memperhatikan bagaimana gurunya berpakaian, menggunakan sepatu, dan menjaga penampilan. Karena itu, kerapian juga perlu menjadi perhatian kita bersama," tegasnya dalam arahan tersebut.

Ia berharap seluruh warga MTsN 3 Mataram mampu menunjukkan identitas sebagai tenaga pendidik dan tenaga kependidikan yang profesional. Penampilan yang rapi, perilaku yang santun, serta kebiasaan menjaga kebersihan merupakan bagian dari pendidikan karakter yang dapat dicontoh langsung oleh siswa.

Keteladanan dinilai memiliki kekuatan besar dalam proses pendidikan. Siswa tidak hanya belajar dari materi yang disampaikan di kelas, tetapi juga dari perilaku orang dewasa yang setiap hari berinteraksi dengan mereka.

Dengan demikian, budaya disiplin dan profesionalisme perlu dimulai dari diri sendiri sebelum diterapkan kepada peserta didik.

Pembagian Tugas Harus Berjalan Seimbang

H. Marzuki selanjutnya mengingatkan pentingnya melaksanakan tugas sesuai fungsi dan tanggung jawab masing-masing. Baik tenaga pendidik maupun tenaga kependidikan memiliki peran yang saling berkaitan dalam mendukung keberhasilan penyelenggaraan pendidikan.

Ia mengajak seluruh warga madrasah untuk tidak terjebak dalam kebiasaan saling menilai, melainkan membangun budaya kerja yang saling melengkapi dan mendukung.

Setiap tugas yang telah dipercayakan oleh lembaga harus diselesaikan dengan baik. Pembagian tanggung jawab perlu dipahami sebagai upaya memastikan seluruh program berjalan secara efektif tanpa mengabaikan hak peserta didik untuk memperoleh layanan pembelajaran yang optimal.

Dalam pelaksanaannya, berbagai tugas tambahan juga perlu dikelola secara proporsional agar kewajiban utama tetap terlaksana. Guru yang mendapatkan amanah tambahan diharapkan mampu mengatur pekerjaan dengan baik sehingga kegiatan administrasi, pembinaan, dan pembelajaran dapat berjalan beriringan.

Kepala Madrasah juga mengingatkan pentingnya menyelesaikan kewajiban administrasi kepegawaian, termasuk penyusunan dan penyelesaian Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) sesuai ketentuan dan jadwal yang berlaku.

Bagi pegawai yang mengalami kesulitan, ia mendorong agar persoalan tersebut dikomunikasikan dengan rekan kerja yang lebih memahami prosesnya. Dengan saling berbagi pengalaman dan pengetahuan, penyelesaian tugas diharapkan menjadi lebih mudah.

Menurutnya, keberhasilan pekerjaan di lingkungan madrasah merupakan hasil keterhubungan berbagai tanggung jawab. Ketika satu bagian tidak menyelesaikan tugasnya, pekerjaan pada bagian lain dapat ikut terhambat.

Karena itu, koordinasi, komunikasi, dan kemauan untuk saling membantu harus menjadi bagian dari budaya kerja seluruh warga MTsN 3 Mataram.

Evaluasi Kehadiran dan Partisipasi Siswa

Dalam arahannya, H. Marzuki juga menyoroti pentingnya meningkatkan partisipasi peserta didik dalam kegiatan yang diselenggarakan di luar pembelajaran rutin.

Ia menyinggung kegiatan yang sebelumnya diikuti oleh warga madrasah, termasuk kegiatan yang berkaitan dengan agenda MotoGP. Berdasarkan pengamatannya, kehadiran siswa dalam kegiatan tersebut belum maksimal sehingga perlu dilakukan evaluasi.

Kondisi ini, menurutnya, perlu menjadi perhatian bersama, khususnya bagi guru yang mendapat amanah sebagai wali kelas.

Wali kelas diharapkan mampu membangun komunikasi yang baik dengan siswa, memberikan pemahaman tentang tujuan kegiatan, serta menumbuhkan kesadaran bahwa keikutsertaan dalam agenda madrasah merupakan bagian dari proses pendidikan.

Pendekatan kepada siswa hendaknya dilakukan secara edukatif, persuasif, dan sesuai dengan karakter masing-masing. Dengan demikian, peserta didik tidak sekadar mengikuti kegiatan karena instruksi, tetapi juga memahami manfaat dan tanggung jawab yang menyertainya.

Ia berharap evaluasi tersebut dapat menjadi bahan perbaikan agar partisipasi siswa dalam kegiatan madrasah berikutnya semakin meningkat.

Melalui keterlibatan aktif dalam berbagai kegiatan, siswa diharapkan memperoleh pengalaman belajar yang lebih luas, mengembangkan kedisiplinan, serta belajar menghargai kebersamaan dan tanggung jawab.

Pojok Baca dan Penguatan Budaya Literasi

Perhatian terhadap pembentukan karakter peserta didik juga diwujudkan melalui rencana pengembangan pojok baca di lingkungan kelas.

H. Marzuki menyampaikan bahwa program tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu upaya mendukung penguatan budaya literasi di madrasah. Rencana ini juga dikaitkan dengan penguatan nilai-nilai karakter melalui pembiasaan membaca dan kegiatan positif di kelas.

Dalam pelaksanaannya, wali kelas memiliki peran penting untuk memberikan arahan teknis kepada peserta didik. Pengelolaan pojok baca perlu dilakukan secara terencana agar fasilitas tersebut tidak sekadar menjadi pelengkap ruang kelas, tetapi benar-benar dimanfaatkan sebagai sarana belajar.

Pojok baca diharapkan dapat mendorong siswa untuk membiasakan diri membaca, menambah wawasan, serta memanfaatkan waktu dengan kegiatan yang bermanfaat.

Keberhasilan program ini tentu membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Guru berperan memberikan bimbingan dan motivasi, sedangkan siswa diharapkan menjaga fasilitas serta membangun kebiasaan membaca secara konsisten.

Melalui langkah tersebut, madrasah diharapkan dapat menciptakan suasana belajar yang lebih kaya, menyenangkan, dan mendukung pengembangan potensi peserta didik.

Kebersihan Kelas sebagai Sarana Pendidikan Karakter

Selain literasi, kebersihan lingkungan menjadi perhatian penting dalam arahan Kepala Madrasah.

H. Marzuki mengingatkan bahwa tugas piket siswa tidak boleh dipahami sebatas membersihkan bagian dalam kelas. Tanggung jawab tersebut juga mencakup lingkungan sekitar kelas, termasuk bagian depan dan belakang, jendela, kaca, serta area lain yang menjadi bagian dari ruang belajar.

Ia menegaskan pentingnya peran wali kelas dalam membimbing dan mengawasi pelaksanaan tanggung jawab tersebut. Keberadaan petugas kebersihan tidak seharusnya menghilangkan kesempatan siswa untuk belajar menjaga lingkungan.

Menurutnya, kebersihan merupakan bagian dari pendidikan karakter. Melalui kegiatan sederhana seperti merapikan meja, membuang sampah pada tempatnya, dan membersihkan ruang kelas, peserta didik belajar tentang tanggung jawab, kemandirian, serta kepedulian terhadap lingkungan bersama.

Ia mencontohkan bahwa di berbagai lingkungan pendidikan, siswa dibiasakan bertanggung jawab terhadap barang yang digunakan dan tempat yang mereka tempati. Kebiasaan tersebut membentuk kesadaran bahwa setiap orang memiliki kewajiban menjaga kebersihan, bukan hanya mengandalkan orang lain.

Oleh sebab itu, wali kelas diharapkan mampu memberikan edukasi secara berkelanjutan agar kebiasaan menjaga kebersihan tumbuh menjadi karakter siswa.

Madrasah tidak hanya dituntut menghasilkan peserta didik yang unggul dalam pengetahuan, tetapi juga membentuk pribadi yang memiliki akhlak baik, disiplin, mandiri, dan peduli terhadap lingkungan.

Persiapan Hari Santri Nasional dan Penilaian Kinerja Kepala Madrasah

Dalam rapat tersebut, H. Marzuki turut menyampaikan sejumlah agenda yang perlu menjadi perhatian bersama, termasuk peringatan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober 2026.

Ia mengajak seluruh warga madrasah untuk mendukung pelaksanaan kegiatan sesuai arahan dan informasi resmi yang akan disampaikan kemudian. Persiapan teknis, termasuk ketentuan pakaian yang digunakan, akan mengikuti pemberitahuan lebih lanjut dari pihak madrasah.

Selain itu, MTsN 3 Mataram juga akan menghadapi kegiatan Penilaian Kinerja Kepala Madrasah (PKKM). Program tersebut merupakan salah satu agenda penting yang membutuhkan dukungan dan keterlibatan warga madrasah sesuai tugas masing-masing.

H. Marzuki mengajak seluruh guru dan tenaga kependidikan untuk membantu kelancaran kegiatan dengan mempersiapkan dokumen pendukung yang diperlukan serta memastikan pelaksanaan tugas berjalan sesuai ketentuan.

Ia menekankan bahwa keberhasilan agenda lembaga tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja. Setiap unsur memiliki kontribusi yang perlu disinergikan agar program madrasah dapat terlaksana dengan baik.

Karena itu, koordinasi dan kesiapan administrasi menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan sejak awal.

Disiplin Kehadiran dan Akurasi Presensi

Hal lain yang ditekankan Kepala Madrasah adalah kedisiplinan dalam melakukan presensi kehadiran.

Ia mengingatkan seluruh ASN dan pegawai, termasuk yang berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), agar melakukan pencatatan kehadiran secara benar melalui sistem yang berlaku, termasuk aplikasi Pusaka sesuai ketentuan yang diterapkan.

Menurutnya, data kehadiran perlu mencerminkan kondisi yang sebenarnya agar administrasi kepegawaian dapat berjalan tertib dan hak-hak pegawai diproses sesuai ketentuan.

Disiplin kehadiran juga harus diterapkan dalam kegiatan rapat bulanan yang telah menjadi agenda rutin lembaga.

H. Marzuki berharap seluruh warga madrasah dapat mengupayakan kehadiran dalam pertemuan tersebut karena forum ini menjadi kesempatan untuk menyampaikan masukan, membahas persoalan pekerjaan, dan menyamakan langkah dalam menjalankan program.

Ia mengajak seluruh pegawai untuk menjadikan kedisiplinan sebagai kebiasaan kerja, bukan sekadar kewajiban administratif.

Dengan kedisiplinan yang konsisten, pelaksanaan tugas diharapkan menjadi lebih teratur, koordinasi semakin baik, dan pelayanan pendidikan kepada peserta didik dapat ditingkatkan.

Redaksi oleh Ruslan Wahid, ST 

0 Komentar