MATARAM – Suasana upacara bendera mingguan di MTsN 3 Mataram, Senin (2/11/2026), berlangsung istimewa dan berbeda dari biasanya. Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Wakapolda) Nusa Tenggara Barat, Brigjen Pol. Hari Nugroho, S.I.K., hadir secara langsung sebagai pembina upacara sekaligus memberikan pembinaan dan edukasi kepada seluruh warga madrasah mengenai pentingnya menjaga keamanan, ketertiban, kedisiplinan, serta menjauhi berbagai perilaku negatif di kalangan pelajar.
Kegiatan yang berlangsung di lapangan MTsN 3 Mataram tersebut diikuti Kepala MTsN 3 Mataram, H. Marzuki, KTU H. Abdul Hafidz, seluruh guru, staf, karyawan, dan siswa-siswi MTsN 3 Mataram. Turut hadir mahasiswa Program Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) Universitas Mataram (Unram).
Kehadiran Wakapolda NTB juga didampingi sejumlah pejabat jajaran Polda NTB serta puluhan personel kepolisian, baik polisi laki-laki (Polki) maupun polisi wanita (Polwan). Kehadiran jajaran kepolisian tersebut semakin menambah kekhidmatan sekaligus memberikan suasana tersendiri bagi seluruh peserta upacara.
Petugas upacara dipercayakan kepada anggota Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) MTsN 3 Mataram. Dengan penuh tanggung jawab, para siswa menjalankan setiap tugas dalam rangkaian upacara, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan. Seluruh peserta mengikuti kegiatan dengan tertib dan khidmat.
Polri Hadir Lebih Dekat dengan Masyarakat dan Dunia Pendidikan
Mengawali amanatnya, Brigjen Pol. Hari Nugroho mengajak seluruh peserta upacara untuk senantiasa memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas limpahan rahmat, kesehatan, kesempatan, dan kekuatan sehingga seluruh warga madrasah dapat berkumpul dan mengikuti upacara dalam keadaan sehat.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para siswa yang telah mendapatkan kepercayaan menjadi petugas upacara. Menurutnya, kesiapan, kedisiplinan, dan tanggung jawab yang ditunjukkan para petugas merupakan bagian penting dari proses pembentukan karakter generasi muda.
"Saya mengucapkan terima kasih kepada adik-adik yang telah bertugas dalam upacara pagi ini, mulai dari komandan upacara, petugas pengibar bendera, pembaca Undang-Undang Dasar 1945, hingga petugas lainnya. Semoga pengalaman ini menjadi bekal dan motivasi untuk terus meningkatkan kemampuan serta kedisiplinan," ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Wakapolda NTB juga menyampaikan terima kasih kepada Kepala MTsN 3 Mataram beserta seluruh keluarga besar madrasah yang telah memberikan kesempatan kepada jajaran kepolisian untuk hadir dan menyampaikan program-program Polri, khususnya program yang diarahkan untuk mempererat hubungan antara kepolisian dan masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa salah satu arah kebijakan pimpinan Polri adalah membangun kedekatan yang lebih kuat dengan masyarakat. Oleh karena itu, berbagai program pendekatan langsung terus dilaksanakan, termasuk kegiatan Jumat Keliling, sambang masyarakat, pengaturan lalu lintas pada pagi hari, serta kegiatan pembinaan dan penyuluhan di lingkungan pendidikan.
"Polri harus semakin dekat dengan masyarakat. Karena itu, kami melaksanakan berbagai kegiatan yang memungkinkan anggota kepolisian hadir langsung di tengah masyarakat, termasuk di sekolah-sekolah seperti yang kita laksanakan pada pagi hari ini," jelasnya.
Menurutnya, sekolah dan madrasah merupakan lingkungan strategis untuk membangun komunikasi sekaligus menanamkan kesadaran hukum sejak dini. Melalui kegiatan pembinaan secara langsung, para pelajar diharapkan dapat memahami berbagai persoalan sosial dan keamanan yang berpotensi memengaruhi kehidupan mereka.
Ia menambahkan, kegiatan edukasi semacam ini juga menjadi sarana menyampaikan pesan-pesan kamtibmas dengan tema yang berbeda setiap minggunya, menyesuaikan dengan persoalan yang sedang menjadi perhatian masyarakat.
Ingatkan Bahaya Tawuran, Perundungan, dan Pengaruh Negatif Media Sosial
Salah satu perhatian utama yang disampaikan Brigjen Pol. Hari Nugroho dalam amanatnya adalah meningkatnya berbagai persoalan yang melibatkan kalangan pelajar, terutama tawuran antarpelajar, perundungan atau bullying, penyalahgunaan narkoba, minuman keras, serta pengaruh negatif lingkungan pergaulan.
Ia mengingatkan bahwa perkembangan teknologi informasi dan penggunaan telepon genggam harus disikapi secara bijaksana. Media sosial yang seharusnya menjadi sarana komunikasi, pembelajaran, dan memperoleh informasi dapat berubah menjadi sumber persoalan apabila digunakan untuk menyebarkan provokasi, tantangan, ujaran permusuhan, maupun ajakan melakukan tindakan negatif.
Menurutnya, sejumlah peristiwa tawuran dapat bermula dari aktivitas komunikasi di media sosial. Saling mengejek, menantang, atau menyebarkan provokasi di dunia maya kemudian berlanjut pada pertemuan antarkelompok yang berujung pada tindakan kekerasan.
"Adik-adik tentu sudah tidak asing lagi dengan penggunaan handphone maupun laptop. Namun, teknologi harus dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif. Jangan sampai media sosial justru digunakan untuk saling menantang, memprovokasi, atau mengajak teman melakukan tindakan yang merugikan," paparnya.
Ia menegaskan bahwa para pelajar tidak boleh mudah terpancing emosi hanya karena perkataan atau unggahan seseorang di media sosial. Menurutnya, kemampuan mengendalikan diri merupakan salah satu bentuk kedewasaan yang harus dimiliki setiap pelajar.
Lebih lanjut, ia mengajak para siswa untuk lebih selektif dalam memilih lingkungan pergaulan. Jika ingin berorganisasi, berkumpul, atau membentuk kelompok, hendaknya diarahkan pada kegiatan produktif yang dapat memberikan manfaat bagi diri sendiri, keluarga, madrasah, dan masyarakat.
"Kalau ingin berorganisasi, berkumpul, atau membentuk kelompok, silakan. Tetapi pilihlah kelompok yang produktif, yang bisa membantu adik-adik mengembangkan kemampuan dan mempersiapkan masa depan. Jangan justru bergabung dengan kelompok yang tidak memberikan manfaat," tuturnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kebiasaan berkumpul di luar sekolah tanpa tujuan yang jelas perlu menjadi perhatian. Menurutnya, lingkungan pertemanan yang kurang baik dapat memengaruhi perilaku seseorang, bahkan mendorong pelajar melakukan tindakan yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.
Waspadai Perubahan Perilaku dan Cegah Perundungan
Selain tawuran, Wakapolda NTB turut memberikan perhatian khusus terhadap persoalan perundungan atau bullying yang masih menjadi tantangan dalam lingkungan pendidikan.
Ia menjelaskan bahwa tindakan perundungan tidak boleh dianggap sebagai candaan biasa, sebab dapat menimbulkan dampak serius bagi korban, baik secara psikologis, fisik, maupun sosial.
Menurutnya, perubahan perilaku dan penampilan seorang pelajar perlu mendapatkan perhatian dari lingkungan sekitarnya. Kebiasaan berkumpul tanpa tujuan yang jelas, mulai membawa benda-benda berbahaya, menunjukkan perilaku agresif, hingga mengalami perubahan kondisi fisik dapat menjadi tanda yang perlu dicermati.
"Guru dan orang tua harus peka terhadap perubahan perilaku anak-anak kita. Jangan sampai ada siswa yang sebenarnya sedang menghadapi persoalan, tetapi tidak diketahui oleh lingkungan sekitarnya," jelasnya.
Ia juga mengajak para siswa untuk saling peduli dan tidak membiarkan tindakan perundungan terjadi di lingkungan sekolah. Jika menemukan teman yang menjadi korban bullying, para siswa diharapkan berani menyampaikan kepada guru atau pihak sekolah agar persoalan tersebut dapat ditangani dengan tepat.
Dengan demikian, lingkungan madrasah dapat terus menjadi tempat yang aman, nyaman, dan mendukung setiap peserta didik untuk belajar serta mengembangkan potensi diri.
Pelajar Harus Memahami Konsekuensi Hukum
Dalam amanatnya juga, Brigjen Pol. Hari Nugroho juga menjelaskan bahwa tawuran bukan sekadar kenakalan remaja yang dapat dianggap sebagai persoalan biasa. Tindakan kekerasan yang dilakukan oleh pelajar tetap memiliki konsekuensi hukum sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Ia menyampaikan bahwa berdasarkan data penanganan kepolisian, kasus tawuran antarpelajar masih menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapatkan perhatian bersama. Bahkan, perkembangan kasus tersebut menunjukkan pentingnya langkah pencegahan yang melibatkan berbagai pihak.
Menurutnya, tawuran sering kali tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan persoalan lain, seperti pergaulan negatif, konsumsi minuman keras, penyalahgunaan narkoba, serta kebiasaan membawa senjata tajam atau benda berbahaya lainnya.
"Adik-adik perlu memahami bahwa pelajar bukan berarti tidak dapat diproses secara hukum. Apabila melakukan tindakan yang melanggar hukum, tentu ada konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan," tegasnya.
Ia menambahkan bahwa penyampaian informasi mengenai konsekuensi hukum tersebut bukan bertujuan menakut-nakuti para siswa, melainkan memberikan pemahaman agar mereka lebih berhati-hati dalam bertindak dan tidak mudah terlibat dalam persoalan yang dapat merusak masa depan.
"Saya selaku Wakapolda tidak menginginkan adik-adik berhubungan dengan kepolisian karena persoalan negatif. Kalau bisa, adik-adik datang ke kepolisian untuk kegiatan yang baik, seperti penyuluhan, sosialisasi, pembinaan, dan kegiatan positif lainnya," tandasnya.
Lebih lanjut, ia berharap terbangun sinergi yang kuat antara kepolisian, pihak sekolah, dan orang tua dalam melakukan pengawasan terhadap aktivitas pelajar. Upaya pencegahan perlu dilakukan secara bersama-sama, termasuk memberikan perhatian terhadap kebiasaan berkumpul di luar jam sekolah yang berpotensi mengarah pada tindakan negatif.
Ia juga menyampaikan bahwa patroli dan pembinaan oleh jajaran kepolisian akan terus dioptimalkan sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan dan mencegah terjadinya tawuran maupun tindakan kriminal lainnya.
Jauhi Narkoba dan Pilih Kegiatan yang Produktif
Persoalan penyalahgunaan narkoba dan minuman keras juga menjadi bagian penting dari amanat Wakapolda NTB. Ia mengingatkan bahwa generasi muda harus mampu menjaga diri dari berbagai pengaruh negatif yang dapat merusak kesehatan, masa depan, serta kehidupan sosial.
Menurutnya, penyalahgunaan narkoba dan konsumsi minuman keras dapat menjadi salah satu faktor yang mendorong seseorang kehilangan kendali diri sehingga berpotensi melakukan tindakan yang merugikan orang lain.
Karena itu, para pelajar diminta berani menolak setiap ajakan yang mengarah pada penyalahgunaan zat berbahaya tersebut.
Ia juga mengajak para siswa untuk mengisi waktu luang dengan kegiatan yang lebih bermanfaat. Energi, kemampuan, dan semangat generasi muda seharusnya diarahkan untuk mengembangkan potensi, bukan dihabiskan untuk aktivitas yang tidak memberikan manfaat.
"Daripada energi dan pikiran adik-adik digunakan untuk hal-hal negatif, lebih baik dimanfaatkan untuk kegiatan yang produktif. Kembangkan hobi, apakah itu musik, olahraga, seni, atau kegiatan lain yang bisa memberikan manfaat dan menghasilkan prestasi," paparnya.
Ia menambahkan bahwa setelah menyelesaikan kegiatan pembelajaran di sekolah, para siswa sebaiknya memanfaatkan waktu untuk membantu orang tua, mengikuti kursus, belajar tambahan, maupun mempersiapkan materi pelajaran untuk hari berikutnya.
Dengan demikian, waktu yang dimiliki para pelajar dapat digunakan secara efektif untuk membangun kemampuan dan mempersiapkan masa depan.
Ingatkan Pentingnya Keselamatan Berlalu Lintas
Tidak hanya membahas persoalan kenakalan remaja, Wakapolda NTB juga memberikan perhatian terhadap keselamatan berlalu lintas, khususnya bagi pelajar yang menggunakan kendaraan bermotor.
Ia mengungkapkan bahwa masih ditemukan masyarakat yang berkendara tanpa menggunakan helm. Padahal, helm merupakan salah satu perlengkapan penting untuk melindungi kepala apabila terjadi kecelakaan.
Menurutnya, penggunaan helm bukan semata-mata untuk menghindari teguran atau penindakan dari petugas kepolisian, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap keselamatan diri sendiri.
"Kalau saya melihat pengendara yang tidak menggunakan helm, tentu akan saya hentikan dan saya ingatkan. Bukan karena ingin menakut-nakuti, tetapi karena saya peduli terhadap keselamatan mereka," ungkapnya.
Ia kemudian menyampaikan pesan yang cukup menarik perhatian para peserta upacara.
"Jangan takut kepada polisi, tetapi takutlah kepada aspal. Kalau terjadi kecelakaan dan kita tidak menggunakan helm, kepala kita yang berada dalam bahaya. Karena itu, gunakanlah helm setiap kali berkendara," tuturnya.
Selain penggunaan helm, ia juga mengingatkan pentingnya kelengkapan kendaraan bermotor, seperti pelat nomor, kaca spion, lampu sein, serta membawa Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) dan memenuhi persyaratan berkendara sesuai ketentuan.
Ia berharap para siswa yang telah memenuhi persyaratan untuk berkendara dapat menjadi pelopor keselamatan berlalu lintas, sekaligus memberikan contoh yang baik kepada keluarga dan lingkungan sekitarnya.
Lima Pesan Penting untuk Menjaga Masa Depan Pelajar
Menjelang akhir amanatnya, Brigjen Pol. Hari Nugroho menyampaikan sejumlah pesan penting yang harus menjadi pedoman para siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Pertama, para pelajar harus berani mengatakan stop tawuran dan tidak mudah mengikuti ajakan teman maupun kelompok yang mengarah pada tindakan kekerasan.
Kedua, tidak membawa senjata tajam atau benda berbahaya lainnya tanpa alasan yang dibenarkan. Kebiasaan membawa benda semacam itu dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain serta berpotensi menimbulkan konsekuensi hukum.
Ketiga, tidak terjebak dalam solidaritas negatif. Menurutnya, solidaritas sejati bukan berarti membenarkan semua tindakan teman, terlebih jika tindakan tersebut melanggar aturan dan merugikan orang lain.
"Jangan hanya karena teman, kemudian kita merasa harus selalu membenarkan apa yang dilakukan. Kalau teman melakukan sesuatu yang salah, bukan berarti kita harus ikut. Solidaritas yang baik adalah saling mengingatkan dan mengajak kepada kebaikan," jelasnya.
Keempat, menjauhi minuman keras, narkoba, dan berbagai bentuk penyalahgunaan zat berbahaya yang dapat merusak masa depan.
Kelima, mengutamakan pendidikan, fokus pada proses belajar mengajar, serta mengisi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat bagi pengembangan diri.
Ia berharap kelima pesan tersebut dapat benar-benar dipahami dan diterapkan oleh para siswa, tidak hanya ketika mengikuti upacara, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
"Kalau tidak ada kegiatan lain setelah sekolah, segeralah pulang. Gunakan waktu untuk belajar, membantu orang tua, atau mengikuti kegiatan yang bermanfaat. Persiapkan diri untuk pelajaran besok agar adik-adik semakin siap menerima ilmu dari para guru," pesannya.
Di akhir amanatnya, Wakapolda NTB berharap seluruh pesan yang disampaikan dapat menjadi pedoman bagi para pelajar agar terhindar dari berbagai persoalan sosial dan hukum.
Ia juga mengajak seluruh warga madrasah untuk bersama-sama menjaga lingkungan pendidikan agar tetap aman, tertib, dan kondusif.
Doorprize Helm dan ATK Meriahkan Penutup Kegiatan
Usai pelaksanaan upacara dan penyampaian amanat, kegiatan dilanjutkan dengan pembagian doorprize kepada para siswa bagi yang bisa menjawab pertanyaan yang diberikan langsung oleh Waka Polda dan jajarannya. Sejumlah hadiah berupa helm dan alat tulis kantor (ATK) dibagikan sebagai bentuk perhatian sekaligus penyemangat bagi peserta didik.
Pembagian hadiah tersebut disambut dengan penuh antusias oleh para siswa. Suasana semakin semarak ketika para peserta mendapatkan kesempatan menerima berbagai hadiah yang telah disiapkan.
Pemberian helm juga memiliki pesan edukatif tersendiri. Selain sebagai hadiah, helm menjadi simbol ajakan untuk selalu mengutamakan keselamatan dalam berkendara sebagaimana yang telah disampaikan Wakapolda dalam amanatnya.
Redaksi oleh Ruslan Wahid, ST




0 Komentar